Sudahkah Siap?

Sepakat tidak teman-teman yang perempuan kalau the biggest natural call of ours itu menjadi seorang istri dan ibu? Karena bagi saya iya.

Kebetulan saat ini saya sedang membaca buku berjudul “Bahagia Bersamamu” karya Majdi Muhammad As-Sahawi. Buku ini menjabarkan hal-hal untuk mewujudkan sakinah, mawaddah, wa rahmah secara nyata (tertulis di sampul bukunya hehehe). Nah, dalam kriteria istri idaman, di sana disebutkan 50 kriterianya. Saat membacanya, rasanya air mata mau mengalir dengan derasnya. Satu demi persatu kriterianya saya pantulkan ke diri saya sendiri dan kemudian muncul pertanyaan, “Apakah saya (bisa) seperti itu?

Saya coba tuliskan di sini ya beberapa dari 50 kriteria tersebut.

  • Shalihah
  • Taat pada suami
  • Memelihara shalatnya
  • Tulus dan ikhlas
  • Menghormati kerabat suami
  • Pandai berterima kasih pada suami
  • Tidak pernah mengeluh
  • Tidak suka menuntut
  • Peka terhadap kondisi & perasaan suami
  • Pemaaf
  • Menjaga kehormatan suami
  • Pandai mengatur rumah

Kira-kira demikian beberapa di antaranya. Perempuan mana sih yang tidak ingin menjadi istri idaman bagi suaminya?

Beberapa saat lalu saya juga kembali seperti ditusuk dari arah mana pun saat membaca kalimat ini. Banyak orang siap menjadi suami atau istri, tetapi tidak siap menjadi orang tua. Naudzubillah.

Sungguh, tekadkan dalam hati ketika mempersiapkan diri menjadi teman hidup orang lain, saat itu juga kita mempersiapkan diri menjadi orang tua bagi generasi mendatang. Ya Allah, semoga ketika menurutMu diri ini siap menjadi seorang istri, seketika itu pula bagiMu diri ini siap menjadi seorang ibu. Aamiin.

Jadi girls, menikah itu bukan perkara sembarangan, bukan hal main-main. Harus dipersiapkan secara matang. Maafkan kalau kata-kata ini datang dari saya yang masih sama dengan kalian, dalam tahap penantian. *tsaaaaah

Hanya saja tidak perlu resah, risau, gelisah, cemas, galau, dan lain sebagainya dalam menanti seseorang itu. Berhenti bertanya kapan jodoh kita datang. Karena jika belum dihadirkan secara nyata oleh Allah, itu pertanda kita masih punya cukup waktu untuk terus dan terus memperbaiki diri. Masih punya cukup waktu untuk siap menjadi istri idaman (terima kasih buku yang sangat bagus yang sedang saya baca).

Abu Hurairah menyebutkan, ia berkata, “Dikatakan kepada Rasulullah, ‘Siapakah sebaik-baik perempuan (istri) itu?’ Jawab Rasul, “Ialah yang jika dipandang suaminya menyenangkan, jika diperintah ia taat, dan tidak membantah atau melawan untuk memenangkan diri sendiri, serta tidak menentangnya dalam hal harta dengan mendatangkan sesuatu yang tidak disukai suaminya.”
(H.R. Ahmad, Imam  An-Nasa’i, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim dan ia menshahihkannya)

image

Image source: @likeislam IG account

Sudah siapkah kita dengan hierarki ketaatan yang akan berpindah pada suami kita?

Sudahkah siap? Sudahkah?

Semoga saat tiba waktunya nanti, dengan mantap kita akan berkata: YA, SAYA SIAP! Insya Allah. 🙂

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 15 Januari 2015. Ditulis menanti subuh, a self reminder actually.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s