Sederhana

Setelah sedari siang terus berkutat membantu mama mengerjakan tugas kuliah beliau, akhirnya tetap belum selesai bisa rehat juga. Sebelum terjadi kram otak akut, ada baiknya menulis setelah beberapa hari tidak di-update. Nulisnya sambil meluruskan punggung dan merilekskan otot gluteus maximus hahaha. Pegel pisan! 😂

Oke, jadi begini. Saya pernah sekali (serius seumur hidup baru sekali) diajak ke sebuah resto bernuansa Jepang setelah sukses menggelar acara tingkat universitas beberapa tahun silam. Kebetulan kakak steering committeenya baik hati dan tidak pelit. Terpuaskanlah perut kami malam itu dengan label “all-you-can-eat” di resto tersebut. Eeeaaa ketebak ya restonya.

Hanya saja ada satu orang (kayaknya sih satu aja) yang norak tingkat kecamatan karena bingung bagaimana makan di sana. Iya, iya, orang itu saya. Dengan pendampingan kawan yang prihatin melihat saya, akhirnya berhasil juga saya beradaptasi malam itu dengan cepat.

Setelah selesai makan, ternyata bagi saya biasa saja rasanya. Saya tetap lebih mengidolakan omelet daging di rumah makan ngawi, pecel ayam gerobakan budhe, atau sambel goreng teri di warteg favorit. Yang penting bersih dan membuat lidah goyang dombret, kenapa tidak?

Sebenarnya ini masalah selera. Mungkin lidah saya lebih berselera nusantara alias makanan tradisional. Sampai sekarang saya nggak doyan sama yang namanya sushi-sushian. Saya juga hampir tidak pernah makan di tempat-tempat mahal yang sekali makan bisa sampai ratusan ribu. Haaaa mending duitnya dibeliin buku, bisa dapat segambreng itu.

Call me konservatif, konvensional, kampung, or anything you name it. Tapi memang saya lebih senang dengan menu rumahan atau makanan gerobakan yang rasanya bersahabat di lidah. Mantap tiada tara. Ya bolehlah sesekali jadi selingan makan di tempat cepat saji. Namun jangan keseringan, apalagi dijadikan kebiasaan. Hiks hiks.

Semua tulisan di atas sebenarnya bermuara pada satu kata. Sederhana. Bagi saya, yang sederhana itu selalu menenteramkan. Saya sadar bahwa saya telat memahami hal ini, karena saya pun pernah terjerumus dalam perilaku konsumtif (astaghfirullah, jangan-jangan masih nih).

Sederhana itu bukan masalah punya uang atau tidak. Bukan juga perkara mampu beli atau tidak. Sederhana itu gaya hidup.

Ya Rabb, semoga Engkau selalu melapangkan rezeki kami. Bukan untuk semakin meningkatkan standar gaya hidup yang ‘wah’, melainkan untuk meringankan tangan kami membantu yang lain. Aamiin. 🙂

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang tengah malam, ditulis sebelum zzzzz.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s