2014: Lots of Lesson

Sebenarnya sudah mau menulis ini sejak tanggal 1 Januari kemarin. Tapi apa daya, baru sempat dieksekusi sekarang. *halah banyak alasan kamu, Din* Hihihi.

Setahun kemarin cukup banyak hal yang terjadi pada saya. Cukup banyak juga perhelatan batin yang terjadi dalam hati saya. Namun jauh di atas segalanya, Allah telah mendidik saya melalui skenario terbaikNya dan cara terunikNya.

Awal tahun
Awal 2014 adalah bulan-bulan perjuangan serta penantian saya menuju pendidikan pascasarjana. Di awal Januari 2014, saya kembali terbang ke Jakarta setelah tiga bulan meninggalkannya. Sesingkat mungkin saya mengurusi segala berkas yang dibutuhkan sembari menemui kawan-kawan semasa perkuliahan yang sudah dirindukan.

Sebelum kembali ke kota kelahiran, saya sempatkan mengunjungi adik saya di Kota Apel sana. Selang dua tahun sejak 2012, akhirnya saya diizinkan menginjakkan kaki lagi di kota dingin ini (meskipun lagi-lagi sendiri ekekek). Tak lupa saya bertemu kawan semasa SMA.

Qadarullah, rencana S2 pun tertunda. Berkas saya rupanya telat diterima hingga tak menjadi prioritas utama. Alhasil cadangan pertama saja yang harus saya terima dengan lapang dada. Semoga kita berjodoh di lain kesempatan ya, Swedia.

Pertengahan tahun
Perjuangan saya dilanjutkan dengan merasakan “jatuh bangun” mencari kerja. Hahaha berlebihan. Padahal sayanya sih yang orangnya picky.

Mulai dari di-PHP tak diberi kabar selepas interview, berkas awal tidak lolos (huhu UNICEF), ditawari mengajar oleh 2 institusi keperawatan tetapi saya tolak (karena tidak ambil profesi), hingga akhirnya pekerjaan yang saya incar buka lowongan.

Akhir tahun
Di proses penerimaan calon pegawai pada pekerjaan yang saya incar ini alhamdulillah cukup lancar. Seleksi awal, Tes Potensi Akademik, psikotest, tes komputer, berhasil saya lalui. Dengan sistem gugur di tiap tahapannya, saya memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi untuk bisa diterima.

Seleksi pun tinggal interview user, medical check-up, kemudian pelatihan dan OJT. Tinggal selangkah lagi, tapi kemudian saya mengundurkan diri. Loh kenapa, Din? Sungguh sederhana jawabannya. Tidak ada ridho orang tua. Mau semulus apapun langkahnya, jika orang tua tidak ridho, maka saya berhenti.

Bukan hal yang mudah untuk legowo merelakan karena penerimaan calon pegawai ini sudah saya nantikan sejak berbulan-bulan sebelum dibuka. Sedih rasanya hingga saya hampir menutup hati untuk menerima alasan yang diberikan orang tua saya.

Satu-satunya jalan adalah memohon pertolongan Allah. Berdoa tiada henti. Menjalin kedekatan intim denganNya.

Lalu Allah buka mata hati saya. Meresapi kembali argumen orang tua saya. Mereka khawatir jika saya ditempatkan di kota yang jauh tanpa ditemani mahram. Mereka khawatir pekerjaan saya nantinya mengharuskan saya bercampur dengan laki-laki. Mereka pun sesungguhnya tidak pernah mempermasalahkan saya belum mendapatkan pekerjaan.

Allah sadarkan saya dengan perkataanNya:

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu… .”

(Terjemahan Q.S. Al-Ahzab: 33)

Bagaimana bisa saya hampir menutup hati dari penjagaan orang tua saya terhadap anaknya? Astaghfirullah. Cukuplah ayat ini yang menjadi iming-iming saya untuk tidak ngoyo dalam hal pekerjaan.

Ternyata selama ini saya terkerangkeng dalam ketidaktahuan saya, dalam “kebodohan” saya. Hingga Allah buka mata hati saya, mengikuti perintahNya, dan menaati orang tua. Semoga hal ini menyenangkan mereka. Membantu meringankan kerja mereka di rumah dan terus memperbaiki diri setiap hari.

Rupanya rezeki dariNya datang dari arah tak disangka-sangka ketika berusaha menjalankan hal yang disukaiNya. Di penghujung tahun saya dapat murid privat! Yay! Saya tidak perlu keluar rumah, tidak perlu khawatir tidak ada mahram, dan tidak juga berbaur dengan laki-laki. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat. :’)

Di penghujung tahun ini pula Allah berikan satu kisah terbaikNya bagi saya. Tak pernah saya duga, bahkan jauh dari pemikiran saya. Masya Allah, inikah jawaban dari segala penundaan sebelumnya?

Epilog
Secara kasat mata memang di tahun 2014 saya tidak memiliki pencapaian apa-apa. Yang terlihat dari luar bisa jadi biasa saja. Tidak ada yang patut dibanggakan dari saya.

Namun, saya merasa kaya dengan segala pemahaman hidup yang Allah ajarkan sepanjang 2014. Saya belajar husnuzhan pada ketetapan Allah, saya belajar memasrahkan segala hal ghaib di masa depan pada Allah, saya belajar kesabaran, saya belajar memaafkan, saya belajar berbesar hati, dan masih banyak pembelajaran lainnya yang mungkin tidak saya tahu.

Sungguh, tiap skenarioNya adalah kebaikan. Jadi untuk apa saya meragukan?

Thanks, 2014! Hello 2015, please be nice. 🙂

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 5 Januari 2015. Ditulis sambil menunggu murid privat datang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s