Sehari Bersama Papa #2

Beberapa jam lalu saya habis menonton sebuah acara talkshow dengan bintang tamu Kang Emil alias Ridwan Kamil alias Walikota Bandung. Saat ditanya mengenai ayahnya, beliau sedikit tercekat haru menjawabnya. Atuhlah sama pisan kita, Kang! Abdi teh teu tiasa oge nahan haru tiap ngimpleng papa.

Terakhir bertemu papa bulan Januari lalu. Berarti sudah hampir genap setahun kami tak saling bertatap muka. Pertemuan terakhir itu terjadi di kereta jurusan Bogor-Jakarta Kota. Saya dan dek Puspa menyalim tangan beliau sebelum akhirnya turun di stasiun Universitas Indonesia.

Selama empat tahun kuliah, kebersamaan kami terjadi di setiap akhir pekan. Salah satu tempat saya belajar kehidupan dengan papa adalah di kereta. Berbagai macam tipe manusia ada di sana.

Saat pertama kali harus berangkat ke UI Depok dari Jakarta, papa yang pertama kali mengajari naik kereta. Maklum di Kalimantan Timur nggak ada jalur kereta. Papa membantu saya menghapal urutan stasiun yang harus dilewati sebelum turun di UI. Cukup sekali saya ditemani, papa segera percaya melepas saya sendiri.

Dari perjalanan di kereta inilah berbagai pelajaran hidup tertanam dalam benak saya.

Dulu saat masih ada KRL ekonomi, masih sering kami jumpai para pencari rezeki. Mulai dari pengamen, penjual berbagai macam barang (seriously kalian bisa cari apa aja di kereta, mulai dari buah, senter, buku, dll), sampai anak kecil yang menyapu kereta sambil meminta upah. Bagaimana mungkin tidak bersyukur saat melihat kondisi mereka?

Ketika dulu pengecekan karcis kereta masih menggunakan pembolong kertas, saya belajar tentang kejujuran. Ada yang sadar dengan jujur mengeluarkan karcis dengan jurusan dan tanggal yang tepat saat petugas datang memeriksa. Ada yang menerima konsekuensi diturunkan paksa di stasiun terdekat karena tak memiliki karcis. Ada yang berpura-pura tidur hingga petugas harus menunggui untuk membangunkan.

Kereta juga punya jam-jam khusus kapan bangku kosong, kapan penuh sesak. Bersama papa, saya belajar mematuhi segala peraturan di kereta. Dahulukan ibu hamil, lansia, dan penyandang cacat untuk mendapat bangku. Kami sudah terbiasa kuat berdiri dari stasiun keberangkatan sampai kami turun di tujuan. Kalau pun ada bangku kosong di depan, papa dengan manisnya mendahulukan anaknya untuk duduk.

Saat menuju stasiun tidak jarang kami harus menyeberangi jalan. Sebagai seorang lelaki, papa selalu berinisiatif tinggi mengambil posisi di samping saya pada sisi arah datangnya kendaraan. Padahal di usianya yang tak lagi muda, seharusnya saya yang melindungi papa.

Di dalam kereta memang kami sangat jarang berbicara. Saya biasanya langsung mengambil buku dari dalam tas dan sok sibuk membaca. Namun saya memperhatikan papa yang memastikan jendela kereta tertutup karena sepanjang rel suka ada anak-anak usil melempari batu ke arah kereta. Sesederhana itu ia melindungi putrinya.

I personally believe that we can learn from almost everything. Termasuk dari hal-hal kecil di sekeliling kita, salah satunya perjalanan dalam kota dengan kereta. Oh, terima kasih Jakarta.

Terlebih lagi saya berterima kasih pada papa. Darinya saya belajar mandiri berkereta. Darinya saya belajar memaknai kehidupan. Darinya saya belajar banyak hal.

Kemudian pikiran tentang papa buyar saat dek Asma tiba-tiba bilang, “Kak Dini nangis ya?” Eeeaaa ketahuan deh. Saya mah dikit-dikit nangis nonton ginian kayak tayangan Kang Emil sama orang tuanya begini.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, di satu malam mengingat papa. Semoga papa segera dihubungi ya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s