Cerpen: Hati yang Bening

Bertahun-tahun aku bertanya pada diriku sendiri. Tercipta dari apa sebenarnya hatimu itu? Tiada sedikit pun memiliki keinginan menyakiti, bahkan sejak dalam pikiran.

Hingga dua malam lalu ibumu bercerita padaku sebelum kita berpamitan padanya dengan diiringi rasa haru. Sekarang kugenggam erat jemari mungilmu. Kulirik sekilas dirimu. Ada pancaran kebahagiaan dari bola-bola matamu.

Embun sudah melalui banyak hal pahit dalam hidup, Nak“, ibumu membuka percakapan. Kemudian ibumu melanjutkan pembicaraannya.

Ruang-ruang emosi ibumu dipenuhi memori masa lalu. Genangan air terlihat di sudut-sudut matanya. Betapa sejak kecil kau sudah akrab dengan segala penghinaan, caci-maki, cemoohan, pengucilan, dan segala hal berbau menjatuhkan harga diri lainnya. Entah bagaimana tersakitinya hatimu kala itu.

Tidak apa-apa, Ibu. Embun harus belajar mengalami ini. Embun harus merasakannya agar tidak pernah Embun melakukannya pada orang lain“, ibumu mencoba menirukan ucapanmu.

Sepertinya ibumu terlalu terluka menyaksikanmu berkawan dengan segala kepahitan. Namun ia berterus terang bahwa yang lebih menyakitkan adalah melihatmu tetap tulus tersenyum menghadapinya. Tak ada sakit hati, tak pernah ada dendam. Alih-alih membalas, kau justru selalu membantu mereka yang mencela.

Kupandangi sekali lagi wajah meneduhkan di sampingku. Kau yang menyadari sedang diperhatikan, menoleh perlahan. Senyummu menyihirku. Seperti namamu, Embun, kehadiranmu menyejukkan hatiku.

Nak Zirin, tolong jaga dengan baik permata ibu ini. Mungkin takkan pernah kamu temukan di dunia hati sebening dirinya“, pesan ibumu sesaat sebelum kamu datang memberi tahu bahwa pesawat kita segera boarding.

Di penghujung lamunanku, kamu dengan lembut melepaskan genggamanku. Setelah mengucap basmalah dengan mantap, kamu berjalan dengan anggun menuju podium. Namamu baru saja disebutkan.

Sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri. Terbuat dari apa hatimu itu, Embun? Bahkan setelah tujuh tahun menikahimu pun aku masih belum menemukan jawabannya.

Namun sekarang bukan waktu yang tepat memikirkannya. Kamu sudah berdiri di depan sana, siap memberikan sambutan perdana. Hati beningmu memikat dunia untuk menganugerahimu nobel perdamaian.

Ibu, Embunmu memang pantas mendapatkannya“, gumamku dalam hati.

image

Image source: personal gallery

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 23 Desember 2014 ; 15.35 WITA.

[Punya ide cerita ini udah dari kapan tau, bulan Agustus kayaknya. Kemudian baru dieksekusi akhir tahun. Yo opo to rek? 😂]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s