Lagi-Lagi Rindu

Sudah sign in sedari tadi, tapi kemudian mendapat tugas negara dari bos besar. Ada tugas kuliah mama yang harus diselesaikan. Lol ini mah yang kuliah siapa, yang ngerjain tugasnya siapa. Hehe.

Alhamdulillah saya suka topik tugasnya. Kali ini mengenai psikologi perkembangan anak. Jadi ya nggak beban ngerjainnya. Tuh kan, bikin saya semakin ingin kembali kuliah.

Bicara soal kuliah, sungguh saya merindukan hari-hari saat praktik sebagai mahasiswa dulu. Apalagi beberapa malam lalu saya dan beberapa orang teman habis menjenguk teman di rumah sakit. Kembali menginjakkan kaki di RS membuat saya tersenyum sendiri. Aroma khas rumah sakit punya magnet tersendiri bagi saya.

Melihat pasien berada di bed mereka membuat saya rindu tiap pagi menyapa mereka. “Assalamu’alaikum Pak/Bu. Saya Dini, mahasiswa dari UI yang hari ini akan merawat Bapak/Ibu. Saya cek tensinya dulu ya.” Kemudian saya pun menanyakan bagaimana tidur pasien semalam. Padahal kondisi tidur mahasiswa keperawatan pun belum tentu baik.

Melihat baki berisi makanan untuk pasien membuat saya rindu memperhatikan pola makan pasien. Memastikan pasien menjalankan diit sesuai dengan anjuran dokter atau ahli gizi. Padahal mahasiswa keperawatan bisa jadi sarapan pun tidak sempat. Makan roti di dalam angkot atau kereta adalah hal yang patut disyukuri.

Melihat keluarga pasien membuat saya rindu berkunjung ke keluarga atau kelompok masyarakat. Menggali masalah kesehatan mereka, menegakkan diagnosis keperawatan, dan kemudian mengimplementasikan rencana yang sudah dibuat. Meski jarak ke rumah keluarga cukup jauh ditempuh, tetap saja kami lalui. Meski hujan, laporan belum selesai, ada tugas mata kuliah lain menumpuk, tak sedikit pun menghentikan niat baik mahasiswa keperawatan.

Seringkali tiap malam tetap terjaga untuk menulis laporan, mencari jurnal terkait penyakit pasien, dan memantapkan rencana tindakan esok hari. Tidur pun harus direlakan lebih larut. Serasa baru semenit dua menit memejamkan mata, tahu-tahu adzan subuh sudah terdengar. Lalu harus memaksa tubuh bangkit dan kembali berdesakan di angkutan umum menuju rumah sakit.

Pasien itu kebanyakan orang asing, bukan keluarga, bertemu pun tidak pernah. Tapi selelah apapun, selalu ada sunggingan senyum untuk mereka. Ketulusan membantu mereka kembali sehat membuat pegal di kaki tak terasa sama sekali.

Tapi itulah mahasiswa keperawatan. Our hearts will grow 10 times its normal size. We’ll become comfortable with being uncomfortable. We won’t do this job to be noticed. We meet and befriend with amazing people.

Setahun lebih saya tidak berkecimpung di dunia ini. Meskipun skill sudah tentu menurun, semoga empati tak hilang dari hati.

Sungguh saya rindu…

image

Bersama teman kelompok saat praktik di keluarga Cimanggis Depok, 2012

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 19 Desember 2014. Ditulis di sela-sela istirahat ngerjain tugas mama, sekarang lanjut lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s