Bersahabat dengan Kesulitan

Sebelumnya saya mohon maaf jika contoh kejadian dalam tulisan ini adalah kisah saya sendiri. Izin ya. Tidak apa-apa ya.

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Sejak SD kelas satu, karena pendampingan belajar dari orang tua (terutama mama) yang luar biasa, saya selalu mendapat ranking. Kalau tidak ranking satu, berarti ranking dua. Nilai pun baik-baik saja hingga SMP. Lalu suatu saat ketika SMA, saya pertama kali harus merasakan “ulangan perbaikan”. Rasanya saat itu malu semalu-malunya, dunia gelap tanpa harapan. *lah hiperbola*

Lain lagi selepas SMA. Tiga kali saya ikut tes perguruan tinggi untuk masuk fakultas kedokteran dan tidak satu pun diterima. Padahal sudah cukup yakin dengan hasil prediksi satu bulan les intensif di daerah Mampang, Jakarta Selatan. Nyatanya saya diterima di pilihan kedua pada tes terakhir.

Dan masih banyak contoh “obstacles” lain dalam hidup. Hanya saja saat ini saya memberikan kedua contoh nyata yang pernah saya alami. Yang lain sebaiknya jadi konsumsi pribadi saja hehe.

Semakin ke sini, semakin bertambah pemahaman saya akan hidup. Jika dulu saya enggan mendapati kesulitan dan bisa jadi trauma atasnya, sekarang saya mencoba bersahabat dengannya.

Memang ada beberapa orang yang Allah mudahkan banyak hal dalam hidupnya. Ia ingin selalu menjadi juara kelas, mudah ia dapatkan. Ia ingin mendapatkan uang, mudah ia dapatkan. Ia ingin masuk fakultas kedokteran, mudah ia dapatkan. Ia memiliki rasa percaya diri tinggi, mudah didapatkan.

Apakah segala sesuatu dalam hidup selalu mudah? TIDAK. Sekarang saya baru paham betapa monotonnya hidup ketika selalu mendapat kemudahan demi kemudahan.

Terkadang kita pun akan gagal. Contoh mudahnya adalah kejadian yang saya tuliskan dan alami sendiri di atas. Saya terbiasa ada dalam posisi tinggi saat SD. Mendapat nilai 100, ranking satu dan juara umum, juara ini itu, lalu pada masanya saya jatuh tersungkur ke bawah. Pertama kalinya ujian perbaikan! Kira-kira begini yang saya pikirkan saat itu.

“Payah kamu, Din! Malu-maluin aja! Begitu doang nggak bisa!”

Berlebihan memang. Saya mengutuki diri sendiri. Suram sekali. Satu kemunduran kecil datang dan saya lupa hakikat untuk percaya pada Allah. Saya lupa bahwa formula sukses adalah berusaha dan pertolongan Allah.

Allah yang memberikan kesulitan, Allah pula yang akan memberikan jalan pemecahan. Allah akan memudahkan. Allah Maha Mampu mendatangkan pertolongan.

Sekarang jika saya menoleh ke belakang, saya akhirnya bisa berkata, “Terima kasih Allah tidak memasukkanku ke fakultas kedokteran. Karena dari fakultas yang Kau pilihkan inilah diriku banyak mendapat kebaikan.”

Allah mengajarkan kita untuk memiliki hati yang tenang. Jika kita berusaha, bertawakkal padaNya, bersikap positif, dan berbaik sangka pada Allah, maka Allah akan memudahkan urusan kita. Lesson learned.

Selalu saja ada hal-hal indah dari serangkaian puzzle kehidupan kita. Saat kesulitan itu datang, pastikan kita memiliki hati yang baik pada Allah ‘Azza wa Jalla. Jadi kita akan berlapang dada menghadapi kesulitan itu dan Allah takkan membiarkan pertolonganNya tak datang untuk kita.

Selamat bersahabat dengan kesulitan! 😉

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 12 Desember 2014. 04.00 WITA, disambut hujan lebat menjelang subuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s