Pada Hujan di Jendela Kamar

image

Image source: We Heart It

Selalu saja ada yang ingin kusampaikan, pada hujan yang tiba di jendela kamarku. Apa-apa yang tak mampu terucap dari bibirku yang ditujukan padanya atau padamu.

Pada hujan di jendela kamarku, aku bertanya-tanya. Mengapakah seseorang gemar membandingkan takdir antara dua manusia? Padahal bisa jadi yang satu lebih bersabar dan yang lain lebih berusaha. Tak ada keburukan pada keduanya.

Pada hujan di jendela kamarku, aku menyulam rindu. Pada ia yang hanya bisa kuraba lewat aksara. Yang kunanti hadirnya dengan segenap sabar yang kupunya. Yang kusiapkan taatku padanya karenaNya.

Pada hujan di jendela kamarku, aku bergumam perlahan. Sebagian dari kita terlalu sibuk menebar kebencian atas kesalahan saudaranya. Seolah lupa pada ajaran semasa muda, tentang nilai-nilai kebaikan. Jangan-jangan sebagian itu termasuk diriku.

Pada hujan di jendela kamarku, satu persatu kulukiskan rekam jejakku. Menelaah yang telah lalu, betapa banyak kasih sayang Tuhanku. Sesudahnya kulantunkan doa agar terbang dengan paripurna. Berharap singgah dengan tepat pada tiap jiwa yang tulus hatinya.

Pada hujan di jendela kamarku, aku tergugu. Pantaskah aku dengan segala keburukan masa lalu, diperkenalkan dengan hati sebening dirimu?

Pada hujan di jendela kamarku,
masih banyak yang tertahan di lidahku.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, ditemani embun fajar selepas dini hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s