Menularkan Bahagia

Empat tahun silam, tepatnya di awal Oktober 2010, saya tergabung dalam kepanitiaan rangkaian kegiatan untuk mahasiswa baru. Saat itu kami mengadakan acara tiga hari dua malam di salah satu villa kawasan puncak. Hari terakhir diisi dengan kegiatan outdoor.

Singkat cerita, saya sempat terbawa arus sungai yang cukup deras sebelum akhirnya tersangkut di bebatuan yang cukup besar. Beberapa teman pun mencoba menolong untuk membangunkan saya.

Setelah mereka datang, salah seorang teman berujar, “Lo kok hanyut malah ketawa sih, Din? Gue kan yang tadinya kasihan mau nolong jadi ikutan ketawa. Batal sedih.

Woooooooootttttt???!!!

Sama seperti pagi ini. Beberapa jam lalu saya habis terpeleset dari beberapa anak tangga di rumah setelah menjemur pakaian di loteng rumah. Dapat oleh-oleh luka dan goresan sana sini. I laughed, of course. Mama yang tadinya mau menolong pun batal, ikut menertawakan pula.

Jadi sebenarnya apa toh inti tulisanmu, Din? 😒 hehehe

Begini… Saya lebih senang membagi kebahagiaan dengan orang lain sebagaimana saya begitu senang melihat orang lain bahagia. Rasanya kebahagiaan mereka itu menular. Ya, memang begitu adanya! Kebahagiaan bisa menular hingga merasuki relung-relung kalbu. *woelah bahasanya*

Coba bandingkan ketika kita membagi kesedihan, keluhan, kemarahan, atau kedengkian dengan orang lain. Bisa-bisa dunia terlihat suram, pahit beneeeerrr rasanya. Layaknya kebahagiaan, hal ini pun juga bisa menular. Namun bedanya auranya negatif, bikin setan-setan di pojok ruangan tepuk tangan kegirangan. Astaghfirullah…

Eh tapi, kalau ada teman atau orang lain yang butuh tempat cerita untuk berbagi kesedihan, please don’t ignore them. Ini beda kasus soalnya. Anggap itu sebagai ladang amal kita untuk menjadi pendengar yang baik dan mengasah empati serta kepekaan nurani kita. Make sure you’ll be part of solution! Minta tolong sama Allah untuk bantu mereka kembali bahagia agar kita ikut bahagia dan yang lain terkena dampak bahagia.

Saya dengan kesadaran penuh sebenarnya mengakui bahwa tidak selamanya melulu kebahagiaan yang pernah saya bagi dengan yang lain. Saya juga pernah berbagi kesedihan, bahkan mungkin di Kasten Verhaal ini juga pernah. Namun, saya biasanya sudah menemukan solusi sendiri atas hal itu dan berusaha menggali pelajaran dari tiap kejadian memilukan. Hanya saja kembali lagi, memang lebih menyenangkan berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Seperti cerita di atas misalnya, menertawakan kesedihan sendiri. Hihi.

So, I just wanna say: Selamat menebar senyum bagi orang lain! Selamat membagi kebahagiaan! Mari berbahagia! 💟

Tertanda,
Dini Fitriani Tjarma yang gemar tersandung, terjatuh, terjeduk, terpeleset (kok bangga?)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s