Sehari Bersama Papa

Dulu saat menjadi mahasiswa, sebanyak apapun tugas kuliah, sesibuk apapun kegiatan organisasi, saya selalu menyediakan waktu dalam seminggu untuk mengunjungi papa. Iya, saya yang mendatangi beliau. Biarlah beliau bergembira setelah bertahun-tahun terpisah dari putrinya.

Seringkali saya menemuinya di Pasar Senen Jakarta. Dari salah satu blok di lantai tiga itulah saya banyak mengenal sisi lain Jakarta yang dikenal begitu gemerlapnya. Ketajaman nurani saya diuji tiap berkunjung ke sana.

Di seberang kios papa, ada kios ibu-ibu yang menjual makanan bagi para pekerja di pasar. Berpuluh tahun ia lakoni itu dan tidak sia-sia. Anaknya sarjana!

Jika saya baru datang, biasanya suka ada teteh-teteh mengantarkan teh botol dingin kesukaan saya. Walau terkadang saya tidak sengaja mendengarnya mendesah pelan, tetapi keramahannya tak berkurang sedikit pun terhadap pembeli.

Di lain waktu, papa suka memanggil abang-abang penjual roti keliling untuk sekadar mengganjal perut atau bekal persediaan anaknya di kosan. Kata papa suatu ketika, “Rasanya nggak kalah enak kan non sama donat jeko?” Solidaritas pedagang, saling melariskan dagangan.

Jika tiba waktu shalat, berbagai macam tipe manusia saya jumpai di mushola perempuan. Mulai dari ibu-ibu tua yang sengaja tidur di mushola dengan pendingin ruangan, mbak-mbak yang memperbaiki riasan seadanya, atau nenek-nenek yang khusyuk berdoa. Hingga kadang saya lupa aroma khas kurang menyenangkan karpet yang entah kapan terakhir kali dibersihkan.

Lain lagi dengan penjaga kamar mandi dan tempat berwudhu di sana. Seharian membersihkan najis, mengusahakan agar toilet tetap layak pakai. Bisa jadi penghasilannya hanya datang dari iuran tak seberapa para pengguna kamar kecil. Saya juga tidak tahu.

Lewat waktu maghrib, saya sudah tahu harus menengok ke mana. Di lantai dasar blok selalu saja ada kumpulan bapak-bapak kurang kerjaan sedang menyabung ayam. Belum lagi ditambah taruhan yang kita semua tahu termasuk saudaranya judi.

Syukurnya selalu ada penawar pemandangan kurang mengenakkan itu. Ialah papa yang selalu menjaga dirinya, juga abang-abang ramah yang selalu menyahut jika saya berpamitan pulang, “Pulang ke Depok, Din? Naik kereta sama Bapak?

Maka edisi selanjutnya bersama papa adalah di dalam kereta. 🙂

Masya Allah… Subhanallah… Allahu Akbar…

Sebanyak apapun tugas kuliah, sesibuk apapun kegiatan organisasi, semoga tidak pernah mematikan nurani. Segala penat, segala lelah, semoga tidak menumpulkan nurani. Karena selalu saja ada orang-orang yang membutuhkan empati dari kita.

Dari satu pasar ini, saya melihat sisi lain Jakarta. Sangat jauh dari gemerlap lampu-lampu kota, wajah tebal dengan bedak, bibir bergincu, sepatu mahal sekian juta, mobil mewah, atau pria-pria berdasi. Buka mata hati kita selebar-lebarnya, asah sehalus-halusnya.

—Dini Fitriani Tjarma
Lagi ingin menulis ini. Lega juga selesai ditulis sebelum tidur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s