18-22

image

Image source: indeco_flowers

Ada yang pernah bilang bahwa dalam rentang usia kita dari 18 hingga 22 tahun, semua yang terjadi adalah sementara. Termasuk siapa-siapa yang mengisi masa-masa itu. Semua datang dan pergi.

Kalau coba diimplementasikan dalam kehidupan saya, sepertinya teruji kebenarannya (asyik filsafat ilmiah banget). Karena pada saat saya berusia 18 hingga 22 tahun, saya sedang menjadi anak kuliahan. Fase di mana saya belajar hidup sendiri dan bertemu teman-teman dengan nasib serta tujuan serupa dari penjuru nusantara. Sementara saja. Lalu setelahnya, kami berpisah entah ke mana.

Usia 18-22 tahun merupakan masa seseorang beralih dari tahapan remaja akhir menuju dewasa awal. Sebagian besar orang Indonesia pada usia ini sudah lulus SMA dan mulai melanjutkan ke pendidikan tinggi atau bekerja. Berbelas tahun bersama orang tua, kemudian harus terpisah sementara. Mengumpulkan bekal untuk fase selanjutnya.

Begitu pula dengan saya. Seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya, empat tahun itulah saya bertemu dengan orang-orang yang pada akhirnya tak bisa terus selamanya bersama saya. Dari orang-orang itulah saya mengumpulkan bekal untuk berjuang tanpa mereka setelahnya. Bekal bagaimana kearifan hidup, bagaimana menghargai sesama, bahkan tentang bagaimana bersiap menerka konflik yang akan menimpa.

Kami berjumpa untuk kemudian berpisah. Terdengar klise, tapi memang seperti itulah polanya. Yang mengisi hari-hari empat tahun saya di 18-22 hanya sementara. Tapi maknanya bertahan lama hingga 23 dan seterusnya.

Di masa 23 saya pun kembali ke kota kelahiran tercinta, sedangkan si Padang menetap di ibukota. Si Cirebon diterima di pusat jantung ternama, lalu si Lampung mengabdi di pelosok desa Karawang sana. Lain dengan si Medan yang melanjutkan studinya, lain pula si Jakarta yang akan mengikut suaminya ke Sumatera. Kami terpencar ke mana-mana setelah saling membantu mengumpulkan bekal empat tahun lamanya.

Duhai para jiwa yang baik hatinya, temukanlah sahabat baru di mana pun berada! 🙂

Suatu saat nanti kita akan kembali berkumpul dengan jutaan cerita dan jalan yang berbeda-beda. Apapun peran yang sedang dan akan dilakoni, berikan performa terbaik di tiap jengkalnya.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 22 November 2014. Di sela-sela kerinduan ditemani gemericik hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s