Karena Kita Tidak Tahu #20

Dulu saya termasuk anak yang keras kepala. Sedikit bebal. Susah dibilangin lah pokoknya. Saya nggak bisa menerima nasihat dengan disindir, dimarahin, apalagi dibentak-bentak. Saya harus dengan kesadaran sendiri menyadari kesalahan yang saya perbuat.

Adalah teman baik saya (semoga dirahmati Allah) yang mengerti betul kondisi saya tersebut. Awal-awalnya kami memang sering berantem, diam-diaman dalam beberapa hari kalau ada konflik. Sampai dia menemukan metode jitu dalam mengingatkan ketika saya mulai “menyimpang”.

Ia tahu saya suka membaca. Jadi suatu waktu dia meminjamkan saya buku untuk dibaca. Yaudah saya baca aja tanpa tahu ada udang di balik batu. Setelah saya pinjam beberapa hari dia pun berkata, “Udah baca halaman sekian belum? Paham kan maksudnya?

Saat itu saya sedikit sebal sih karena dianggap salah. Tapi toh saya merasa caranya menasihati saya lumayan santun. Tidak menjatuhkan saya di depan umum, tidak membuat saya sakit hati, dan yang terpenting membuat saya sadar sendiri karena punya waktu bermuhasabah.

image

Image source: pinterest

Kemudian saya punya kesimpulan sendiri. Sebaiknya kita menasihati saudara kita dalam keadaan mereka siap menerima nasihat. Di sinilah pentingnya berempati. Mencoba melihat dari kaca mata yang ingin dinasihati.

Mungkin sebagian dari kita pernah geram melihat kawan kita yang tidak juga berubah setelah berulang kali dinasihati. Atau nggak usah jauh-jauh, adik kita sendiri aja contohnya. Boleh jadi kita membatin dengan gemas, “Iiiiih kok masih begitu sih? Udah dikasih tau juga.” Wajar. Manusiawi.

Barangkali nasihat itu belum kita berikan di saat yang tepat. Barangkali kita belum membina hubungan saling percaya dengan yang diberikan nasihat. Atau barangkali ketulusan kita masih belum sempurna dalam memberikan nasihat.

Yang jelas jangan sampai berhenti mendoakan mereka dalam kebaikan. Jangan berhenti menasihati dalam kebaikan. Termasuk yang nulis nih, tolong selalu diingatkan kalau mulai kelewatan.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar… .”

(Q.S. At-Taubah: 71)

Kenali saudara kita. Pahami mereka. Berlemah lembutlah dalam menasihatinya.

Karena kita tidak tahu, sedangkan Allah Maha Mengetahui.

—Dini Fitriani Tjarma
Bontang, 17 November 2014. Ditulis sebelum ribet aktivitas pagi hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s