Kenangan

Suatu saat saya mendengar seorang pembicara suatu acara mengatakan, “Gue ini produk orang tua bercerai, dan gue nggak mau anak-anak gue merasakan hal kayak gue. Karena jujur itu nggak enak.” Saya spontan tersenyum.

Sampai akhir hidup kita, Allah akan terus beri kita ujian. Tinggal bagaimana kita menyikapi ujian tersebut. Saat diuji dengan kebahagiaan, apakah kita akan bersyukur atau malah terlena hingga lupa pada Yang Memberi Kebahagiaan. Ketika diuji dengan kesedihan, apakah kita akan berkeluh kesah atau justru menerima dengan lapang dada sambil terus memohon pertolongan-Nya. Selalu ada pilihan.

Akan ada masanya saat satu persatu ujian sudah kita lewati. Lalu, semua akan menjadi kenangan. Kenangan menyenangkan atau sebaliknya.

Seperti perkataan pembicara di atas. Masing-masing dari kita tentu memiliki kenangan kurang menyenangkan dalam hidup. Tetapi pembicara tadi bisa mengambil sisi baiknya. Ia sama sekali tidak membenci orang tuanya atas keputusan tersebut dan berjanji pada diri sendiri agar anak-anaknya tidak akan punya pengalaman tidak enak seperti dirinya.

Kenangan, seberapa pun pahitnya, ia akan memiliki tempat tersendiri di dalam hati kita. Biarlah ia tinggal di sana agar sewaktu-waktu bisa kita kunjungi. Selamat beristirahat, kenangan! 🙂

 

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 20 Agustus 2014. 22:32 WITA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s