Perkara Jodoh

Sore tadi, ada notifikasi dari aplikasi LINE di telepon seluler saya. Dari teman SMA.

Duh, beneran kita udah tua ya, Din? Perasaan baru kemarin sekolah, sekarang udah pada nikah sama lamaran. Aku kapan? Dini kapan?

Kalimat-kalimat itu dia kirimkan hari ini, hari di mana salah seorang kawan SMA lainnya melangsungkan resepsi pernikahan. Yes dear, according to Erik Erickson’s stages of human development, we are YOUNG ADULT. Udah bukan remaja lagi, apalagi anak-anak.

Mungkin kawan saya tadi adalah satu dari sekian banyak teman-teman seusia kami yang mempertanyakan hal tersebut. Ada yang terang-terangan “galau”, ada yang memilih bertanya dalam hati saja kapan jodohnya tiba. Ada yang merasa terintimidasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama tiap tahunnya. Seolah-olah itu memang disusun dan direncanakan sedemikan rupa untuk “menyerang” para lajang. Kalau kata Raditya Dika, udah pura-pura mati aja kalau merasa tersudutkan. Hehehe.

Saya sebenarnya nggak ahli menuliskan hal-hal berbau jodoh begini. Mohon maaf aja, soalnya saya sendiri pun masih jom *eh* single. 😀 Namun, saya punya pilihan sikap sendiri dalam menghadapi fenomena dewasa awal ini. Pengalaman tiap orang mungkin saja berbeda, tetapi ada baiknya tekanan sosial mengenai jodoh ini kita sikapi dengan dewasa. Sesuai dengan usia.

Respon tiap orang dalam menanggapi para single di muka bumi ini juga berbeda-beda. Ada yang biasa aja, ada yang prihatin, ada yang cuek bebek. Lucunya bahkan beberapa bulan lalu, kawan saya yang kuliah di Jerman sampai bilang, “Mau dicariin nggak, Din? Banyak juga sih teman-temanku di sana yang baik.” Hiyaaaa! Pribumi aja sob, makasih. Apapun respon orang, kembali lagi kita harus elegan menyikapinya dengan dewasa.

Oh iya, belakangan ini banyak sekali yang share gambar berikut.

nn

Saya cuma bisa geleng-geleng pas pertama kali lihat. Aduh dedek-dedek, memangnya dengan menikah kalian akan bebas dari tanggung jawab? Well, mungkin mereka lupa kalau dengan menikah justru tanggung jawabnya akan berkali lipat besarnya. Tugas dan peran pun akan bertambah, sebagai istri, suami, ibu, ayah, menantu. Lama kerjanya pun tidak hanya berlaku di jam-jam kuliah atau jam-jam kerja saja, tetapi 24 jam hingga akhir usia (insya Allah). Singkatnya, justru pernikahan memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari pada saat sendirian. *merinding kan ngetik beginian*

Hmmm saya nggak berani menulis lebih jauh lagi. Ilmunya masih jauh dari kata banyak, masih seiprit banget ini huhu. Intinya mah perkara jodoh bukan perkara sembarangan dan bukan perkara tabu bagi para lajang dewasa awal. Saran saya tetap sama. Sikapi dengan dewasa. Okesip? 🙂

Terakhir, mari sama-sama berdoa sambil terus menyiapkan diri sebaik mungkin ya saudariku semua.

ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJAN THOYYIBAN WAYAKUUNA SHOOHIBAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH.

Ya Rabb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat.

Aamiin.

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 16 Agustus 2014. menjelang tidur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s