Mama

Kadang atau bahkan sering terpikirkan akan kesanggupan saya menjadi seorang ibu. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, semua perempuan nantinya akan menjadi seorang ibu (atas izin Allah tentunya). Kebanyakan perempuan akan mencontoh sosok ibu ideal yang bisa mereka tiru. Tidak jauh-jauh, biasanya role model mereka adalah ibu mereka sendiri. Begitu pula saya. Mama, orang tua terhebat yang sedari kecil mengurus saya, yang akan menjadi panutan saya.

Lalu, muncul kembali pertanyaan klise itu. Sanggupkah saya menjadi seperti mama?

Mama yang bangun tidur lebih cepat dibandingkan anggota keluarga lain. Meski pernah beberapa kali saya terbangun duluan, tentu kuantitasnya tak sebanyak mama. Mama yang akan menyiapkan makan pagi atau sahur saat Ramadhan, kemudian melanjutkan bersih-bersih rumah. Jika tidak ada saya, mama harus memandikan adik-adik yang masih kecil dan menyiapkan segala keperluan sekolah mereka. Bisa dibayangkan betapa “sibuknya” pagi hari mama.

Lepas anak-anak berangkat sekolah, barulah mama bisa mengurus dirinya sendiri. Bersantai diri? Oh, tentu tidak jawabannya. Mama yang memiliki tanggung jawab sebagai pimpinan PAUD & TK yang ia rintis sedari nol harus sampai di sekolah tepat waktu. Mama harus menghadapi lika-liku birokrasi yang kadang sulit dimengerti akal sehat di negeri ini. Di samping itu, mama juga mendapat amanah menjadi pengurus inti organisasi PAUD kota yang membuatnya berulang kali memperpanjang jam kerjanya.

Sekembalinya ke rumah, mama akan mendengar cerita anak-anaknya di sekolah. Hanya sekejap waktu istirahat mama karena sore pun mama sudah kembali beraktivitas mengajar anak-anak lain agar lancar mengaji. Mulai dari saya sebagai anak tertua hingga anak bungsu, mama sendiri yang mengajari mengaji. Menjelang malam, dengan atau tanpa bantuan saya yang seadanya, mama akan menemani anak-anaknya belajar.

Mama dengan sabar mengurusi keperluan suami, juga keperluan anak-anaknya. Mama tahu bagaimana memanjakan lidah kami sekeluarga dengan masakan enaknya. Mama yang terlalu jago mengatur keuangan keluarga. Mama yang panik setengah mati jika ada perubahan status kesehatan pada anak-anaknya. Mama yang menjaga disiplin anak-anaknya dalam beribadah. Mama yang selalu membela hak keluarganya. Mama yang……….ah sampai kapan pun takkan habis deretan panjang kebaikan-kebaikannya.

***

Sekali lagi, kelak saya akan seperti mama—menjadi istri dan ibu dari anak-anak saya. Semua pelajaran berharga dari mama akan saya jadikan bekal untuk perjalanan di masa datang. Terima kasih telah menjadi tempat berpulang tiap kali lelah datang menyapa dan menjadi rumah yang nyaman untuk mendapat kehangatan, Mama.

??????????????????????????????????????

image source: personal gallery

Doakan kakak supaya suatu saat bisa membangun keluarga hebat di dalam rumah yang menenteramkan. Doa dan ridho mama yang selalu kakak harapkan. Semoga pundak kakak sekuat mama dan hati kakak sekokoh mama. Selagi mama masih di dunia, kakak yakin bahwa doa mama tak pernah terputus untuk putra-putri mama dalam tiap shalat, tiap sujud panjang, juga tiap helai nafas mama. 🙂

 

—anak sulung mama

Bontang, 5 Agustus 2014. 22:58 WITA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s