Kebahagiaan Lebaran

Seperti halnya berpuasa yang tak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, lebaran (alias Idul Fitri) pun tak melulu perihal lepas dari kewajiban berpuasa. Jauh di dalamnya banyak terdapat kebahagiaan. Seperti halnya yang saya rasakan.

Tahun ini begitu indah. Meski terpangkas dua hari sakit bahkan demam di hari lebaran, sama sekali tidak mengurangi rasanya. Allah Maha Adil karena Ia langsung menggantinya dengan berjuta kebahagiaan yang tak tanggung-tanggung membuat saya menitikkan air mata (yang tentunya diam-diam dikeluarkan). Masya Allah…

Iya benar, sebahagia itu ketika keluarga besar duduk melingkar selepas shalat Ied untuk berdoa bersama dan kemudian menyantap makanan khas keluarga yang teramat nikmat. Tidak ada kebiasaan sungkeman, yang penting masing-masing sudah saling bersalaman satu dengan yang lain. Nenek pertama, disusul orang tua, dan menyusul anggota keluarga lain.

Tentu saja sebahagia itu ketika menjelang dzuhur disapa duluan oleh guru semasa SMP. “Mbak Dini ya?” Bagaimana mungkin tidak senang ketika tahu bahwa beliau bukan hanya mengingat nama saya, melainkan bagaimana kehidupan saya semasa sekolah. Lalu keluarlah doa-doa baik darinya. Sekiranya beliau tahu isi hati saya siang itu, bahwa saya begitu mensyukuri pertemuan dengannya.

Percayalah bahwa memang sebahagia itu saat seorang adik kelas berkata, “Dari jauh aku sudah yakin kalau ini Mbak Dini” usai shalat ashar. Luar biasa si adik masih mengenali saya dari cara berjalan saya, bahkan setelah hampir enam tahun tidak bertatap muka. Dibilang dekat pun tidak, tetapi ia tahu bagaimana saya. Sungguhlah menyenangkan diperhatikan sedemikan rupanya.

Terlebih lagi sebahagia itu bertemu kawan-kawan terbaik dalam hidup saya setelah lama tidak saling bertegur sapa secara nyata. Setelah bertahun-tahun berteman, akhirnya pertama kali bertamu ke rumah salah satu dari mereka, menyalim tangan ibunya, dan tahu wajah ayahnya. Sesederhana itu saja, tak berlebihan wujudnya.

…dan sebagainya, dan sebagainya karena begitu banyak kebahagiaan sederhana lainnya.

For all happiness I had, I thank You, Allah.

Saya bahagia. Terima kasih telah menghadirkan keluarga besar, guru-guru, dan kawan-kawan terbaik saya, ya Allah. Terima kasih. Semoga masih bertemu Ramadhan selanjutnya, lebaran selanjutnya, dan kebahagiaan selanjutnya. :’)

Taqabbalallahu minna wa minkum. Happy Eid Mubarak, everyone!

Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah & semakin baik ke depannya.

🙂 🙂 🙂

 

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 30 Juli 2014. 23:33 WITA. ditulis dalam kondisi bahagia.

If you really miss Ramadhan, spend your days and nights as you did in Ramadhan.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s