Hari Anak Nasional

23 Juli 2014…

Image source: personal gallery

Image source: personal gallery

Namun, kenyataannya pada hari-H, berita-berita mengenai semarak Hari Anak Nasional malah tertutupi oleh berita Marshanda lepas hijab. Yuk mari deeeeeh~ (intermezzo aja)

Sudah pada tahu kan yang dinamakan ‘anak‘ itu bukan hanya balita? Mereka yang berumur kurang dari sama dengan 18 tahun masih dikatakan ‘anak‘ loh. Jadi, kalian yang masih berstatus sebagai “anak”, selamat ya bahwa kalian masih memiliki hari spesial di hari ke-dua-puluh-tiga bulan Juli setiap tahunnya. 🙂

Anak-anak itu merupakan sumber daya emas bangsa Indonesia. Sungguh, mereka, anak-anak, akan dan sedang membawa perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Di tangan mereka lah harapan itu disandarkan! Sebelum berjalan lebih jauh, saya ingin mengingatkan mengenai 4 dasar hak-hak anak berdasarkan PBB:

  1. Hak Hidup. Hak untuk hidup layak, seperti misalnya: mendapatkan kasih sayang orang tua, ASI Eksklusif, akta kelahiran, dll.
  2. Hak Tumbuh Kembang. Hak untuk tumbuh dan berkembang, seperti misalnya: hak pendidikan yang layak, bermain, istirahat, belajar, makan makanan bergizi, dll.
  3. Hak Perlindungan. Contohnya adalah dilindungi dari kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga, dipekerjakan di bawah umur, dilindungi dari tindakan kriminal, dll.
  4. Hak Partisipasi. Contoh yang tergampang adalah bebas menentukan pendidikan sesuai MINAT dan BAKAT sang anak.

***

Baik, itu adalah sekilas mengenai hak-hak anak. Kembali ke anak sebagai sumber daya emas bangsa Indonesia. Tentu lah ini bergantung dari peran orang tua.

Yup. Pelajaran mengenai hidup setiap anak dimulai dari keluarga, dimulai dari pengajaran orang tua. Kalau orang tua ingin mengajarkan membaca, sudah sepantasnya orang tua bisa membaca terlebih dahulu. Namun, sadar kah kita semua kalau anak sekarang berbeda dengan zaman saya (yangg lahir 1991), bahkan berbeda dengan zaman orang tua kita?

Jawabannya: SANGAT BERBEDA!

Anak zaman sekarang ada dalam zaman virtual. Zaman elektronik. Semua serba praktis. Ibaratnya dengan menjetikkan jari saja, mereka bisa mendapatkan seluruh informasi yang diinginkan. Oleh karena itu, jangan pula dipakai cara-cara zaman dahulu untuk mengajarkan sesuatu pada anak. Tidak lagi dengan bentakan, tidak lagi dengan pukulan, tidak lagi dengan makian. Percuma! Mereka (mungkin) akan segera menuliskannya di status facebook, twitter, atau media lainnya untuk mengungkapkan kekesalan. Berhasil kah sebagai orang tua jika demikian? Jawablah masing-masing.

Menurut Salivar dan Keene, pakar psikologi, dalam mengajarkan suatu hal pada anak (di zaman sekarang), bisa digunakan ABC. Apa itu ABC? Tadinya saya hanya tahu kalau ABC itu Airway-Breathing-Circulation, tetapi rupanya ada makna lain.

  1. Affection. Sentuhlah dulu “rasa” seorang anak dalam mengajarkan sesuatu. Untuk mengajarkan sholat misalnya pada anak, buatlah dulu sang anak untuk “menyukainya”, untuk “mencintainya”. Maka, seiring dengan tumbuh kembang mereka, mereka akan menjalankan sholat karena “rasa” yang di-stimulasi oleh orang tua mereka.
  2. Behavior. Setelah sang anak memiliki “rasa”, jadikanlah itu menjadi kebiasaan. Bawalah mereka ikut serta menuju masjid untuk menambah “rasa” mereka. Gerakan salah? Bacaan salah? Tak apa! Itu proses belajar mereka! Oh ya, berdasar ilmu keperawatan jiwa & keperawatan anak, jangan lupa untuk selalu memberikan “reinforcement positif” dari segala hal yang biasa dilakukan sang anak.
  3. Cognition. Untuk anak yang mulai masuk usia sekolah atau remaja, disinilah saatnya untuk mengajarkan segala konsep-konsep dari “rasa” dan “biasa” mereka. Gerakan dan bacaan sholat dengan konsep yang tepat sebaiknya diajarkan setelah mereka mencintai hal tersebut.

Terharu sekali kalau semua orang tua menerapkan hal ini, menyadari bahwa anak mereka tidak hidup di zaman mereka dibesarkan. Semoga saya-sebagai calon orang tua- bisa menjadi sebaik-baiknya orang tua dalam membesarkan generasi emas bangsa Indonesia.

Merupakan mimpi saya bahwa Indonesia akan dan selalu menjadi rumah yang ramah bagi anak-anak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Mari bersama membentuk karakter anak-anak Indonesia! Selamat Hari Anak Nasional!

~~~

P.S. Ini sebenarnya tulisan lama (dari sini) yang kemudian saya post kembali dengan beberapa perubahan. Saya mau mengingatkan kembali diri saya akan hal ini karena kelak saya akan menjadi orang tua. Untuk saat ini, bisa saya terapkan pada adik saya yang masih kecil-kecil. Semoga tidak lupa, atau paling tidak ada yang mengingatkan.

—Dini Fitriani Tjarma

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s