Tentang Kerinduan

Kalau ada yang beranggapan bahwa saya akan menulis mengenai hal-hal bersifat romantika dewasa awal setelah membaca judul di atas, maaf sekali kalian harus kecewa. Hehe. Ini tentang kerinduan saya (dan kawan baik saya) akan rumah sakit. Boleh ya saya cerita sedikit. Dikit aja kok nggak banyak-banyak, soalnya sebentar lagi debat capres-cawapres terakhir mau mulai. *loh*

Jadi begini, beberapa hari lalu saya ke rumah kawan baik saya. Setelah iseng-iseng belajar bikin kue dengannya, kami pun berbincang sebentar sebelum saya pulang. Terjadilah heart-to-heart conversation. Kawan baik saya yang lulusan gizi UGM itu ingin sekali kampusnya sesegera mungkin membuka pendidikan profesi ahli gizi yang tertunda. Ia berencana ingin bekerja di rumah sakit sebelum akhirnya membuka praktik konsultasi di rumah.

Di lain sisi, saya yang tidak mungkin bisa bekerja di rumah sakit karena memutuskan tidak mengambil program profesi pun begitu merindukan masa-masa praktik di rumah sakit. Sungguh. Kami berdua, atau mungkin semua teman-teman yang berkecimpung di dunia kesehatan lainnya, punya satu kesamaan berpikir. Ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa digantikan dengan apapun saat berinteraksi dengan pasien di rumah sakit. “Lo nggak papa deh nggak gaji gue selama praktik, yang penting gue bahagia bisa bantu pasien kembali sehat, ilmu gue berguna“, kira-kira begitu lah ungkapan pikiran kami.

Saya rindu berangkat pagi-pagi selepas subuh demi naik kereta paling pagi menuju Jakarta, duduk/berdiri bersama para pekerja lainnya. Meskipun belum sarapan atau laporan belum selesai. Kemudian sama-sama menyantap bekal dengan teman lain di selasar mushola rumah sakit sebelum berganti seragam.

Saya rindu berpakaian putih-putih itu, dengan menenteng nursing kit di tangan dan stetoskop tergantung di leher. Sementara itu ada catatan kecil, pulpen, dan pen light di saku kanan, serta beberapa pasang handscoon dan masker di saku kiri. Setelahnya akan ada senior ruangan yang teriak, “Dek, TTV pasien baru ya!

Saya rindu berlari atau berjalan cepat jika ada bel yang menyala dari kamar pasien. Entah selang infus mereka macet, bertanya kapan konsulen datang, atau sekadar curhat.  Belum lagi jika ada yang mengalami gangguan eliminasi, penurunan kesadaran, atau ada dalam ruang isolasi. Butuh perhatian serta empati ekstra dalam merawat mereka.

Saya rindu bergantian istirahat makan siang dan shalat saat pasien dalam ruangan sedang penuh-penuhnya. Bahkan bisa jadi makannya setelah praktik selesai. Untuk bisa duduk beberapa menit pun sangat bersyukur. Namun, lelah yang sempat hinggap tidak terasa dibanding  melihat sesimpul senyum pasien dan keluarga mereka.

Saya rindu aroma khas rumah sakit. Saya rindu suasananya. Saya rindu pelajaran hidupnya.

Ah, saya rindu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s