The Grass Is (Not) Always Greener

Dindin gimana sih caranya bisa ceria terus kayak lo?“, ucap seorang kawan suatu saat.

Di lain kesempatan saat saya tertangkap bertampang lesu pernah ada yang menegur, “Mbak Din kok tumben murung.

Beda situasi, tapi respon sama yang bisa saya beri. Senyum simpul. Ya gimana dong, saya juga sama seperti yang lain. Sama-sama manusia yang pasti ada kalanya senang, ada masanya sedih. Namun jujur saya selalu menyesal kalau menampakkan wajah masam di hadapan yang lain, entah karena sedang sedih, bete, atau malah lapar hehe. Padahal jelas-jelas Rasulullah mengatakan kalau senyum manis di hadapan orang lain adalah ibadah. Hayooo~

Okay, back to topic. 😛

Kadang, apa yang tampak dari luar tidak melulu serupa dengan kondisi sebenarnya. Orang-orang yang kita lihat selalu ceria dan bahagia, bisa jadi menyimpan permasalahan hidup yang jauh lebih berat dari yang sedang kita hadapi. Hanya saja mereka memilih untuk menyimpan rapat masalah itu, tidak perlu ditunjukkan pada yang lain. They probably think that their personal problems aren’t for public.

Atau pernah nggak kita merasa kasihan dengan mereka yang (terlihat) hidupnya pas-pasan? Kita ambil contoh misalnya bapak tua penjual es kue di depan Stasiun Pondok Cina. Well, anak UI atau yang ngekos di sekitar Pocin pasti tahu deh. Mungkin dari kaca mata kita, atau mungkin kaca mata saya aja kali ya, bapak tersebut hidupnya kekurangan dan susah. Tapi siapa yang tahu kalau bapak tersebut bisa jadi merasa bahagia dan cukup atas hidup yang dimilikinya? Siapa yang tahu kalau bapak tersebut selalu bersyukur atas apapun rezeki yang ia terima?

Kemudian muncul kalimat yang sering terdengar di telinga: “Rumput tetangga selalu lebih hijau.”

Memandang apa yang dimiliki orang lain lebih baik dari yang kita punya. Melihat kehidupan orang lain lebih sempurna dari hidup kita. Padahal seseorang yang hidupnya mendekati sempurna, yang bagi kita memiliki segalanya, boleh jadi tidak bahagia dengan itu semua dan justru berangan-angan menjadi orang lain. Who knows? We never really know.

Saya pun tidak dapat membohongi diri saya jika saya pernah mengidamkan hidup yang orang lain punya. Dulu. Potret keluarga teman-teman yang menurut saya ideal, selalu berbahagia, dan hampir sempurna, ingin saya rasakan. Lalu saya lupa kalau itu hanya kulit luarannya saja. Tiap keluarga pastilah memiliki masalah berbeda di dalamnya, tidak melulu bahagia. Bukankah memang tabiat manusia menampakkan yang terbaik dari diri mereka dan menutupi kekurangannya?

Seram deh kalau penyakit hati yang bernama iri dan dengki itu bersarang di diri kita. Semoga masing-masing dari kita diberi kemampuan untuk merawat hati. Toh rasa-rasanya hidup ini lebih bahagia ketika bisa mensyukuri apa yang kita punya dari pada berandai-andai memiliki apa yang kita ingin punya. Hati yang lapang pun sesuatu yang tak ternilai harganya.

The grass is not always greener. It's just..........different.

The grass is not always greener. It’s just……….different.

Seperti status facebook saya Sabtu lalu. Tiap orang punya jatah hidup di dunia ini, sepaket lengkap dengan kesedihan dan kebahagiaannya masing-masing. Stop comparing your life to others’. We really have no idea what their life is all about. 🙂

 

—Dini Fitriani Tjarma

Bontang, 25 Juni 2014. 12:40 WITA.

(P.S.: (a) Tadinya mau dikasih judul ‘Karena Kita Tidak Tahu #18’, tapi nggak jadi. Eh, tapi tetap masuk kategori K2T2 ding hehe. (b) Image source: tumblr)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s