Book Review: Ayahku (Bukan) Pembohong

Kali ini akan me-review buku fiksi. Hohoho. Dari begitu banyaknya buku fiksi yang saya baca (lebay ding, nggak banyak), buku ini masuk dalam top list favorit saya. Bahkan kalau sampai buku ini belum kembali tersusun rapi di rak buku alias dipinjam terlalu lama, saya dengan tidak bosannya akan mengingatkan yang meminjam untuk segera mengembalikan. Buku yang dibeli pada Februari 2012 ini telah mengubah hidup saya, setidaknya cara berpikir saya.

Buku ini merupakan sebuah novel yang menceritakan seorang anak bernama Dam yang dibesarkan oleh cerita-cerita mengenai kesederhanaan hidup. Hal ini membuatnya “berbeda” di antara teman-temannya yang lain. Ia tumbuh dengan cara pandang yang berbeda dengan kebanyakan teman sebayanya. Cerita-cerita itu dikisahkan langsung oleh ayahnya sendiri, mentor terbaik dalam kehidupan keluarga Dam.

Saat membaca buku ini, saya betul-betul dibawa masuk menyelami lembar demi lembar cerita sang penulis. I can always be so emotional whenever someone brings up the topic about father. Termasuk topik utama buku ini. Ayah Dam adalah ayah yang begitu baik. Baik bagi istrinya, anak satu-satunya, juga sekitarnya. Ia dikenal akan kebaikan dan kejujurannya. Seluruh kota tahu itu, bayangkan! Ia pun selalu berprasangka baik kepada setiap orang, juga menghargai setiap orang sehingga ia selalu dihargai. Itu ajaran papa banget! :’)

Hormati orang lain, maka kamu akan dihormati. Hargai orang lain, maka kamu akan dihargai.

—Papa

Hal lain yang membuat saya menyukai buku ini adalah kisah pendidikan Dam di Akademi Gajah. Sebuah sekolah yang mendidik murid-muridnya bukan hanya sekadar mencetak nilai bagus di atas rapor. Di halaman 241 dituliskan kepala sekolah Akademi Gajah berkata begini kepada Dam, “Kami tidak mendidik kalian sekadar mendapatkan nilai di atas kertas. Seluruh kehidupan kalian tiga tahun terakhir, dua puluh empat jam, baik di kelas ataupun tidak adalah proses pendidikan itu sendiri.” Gotcha! Value seorang anak lebih dari angka-angka. Rasa-rasanya saya pengen banget memasukkan anak saya kelak di sana jika institusi tersebut nyata ada di dunia ini.

Kenapa di awal saya menyebutkan kalau buku ini mengubah hidup saya? To tell you the truth, dulu saya berambisi sekali untuk jadi terkenal. Keseringan jadi MC di kampus membuat saya pengen jadi presenter acara kesehatan di tipi-tipi, jadi tenar, dll. Kemudian hadir buku ini, buku yang mengajarkan saya banyak hal tentang kearifan hidup. Ayah Dam lulusan S2 luar negeri dan Ibu Dam dulunya adalah seorang artis cantik terkenal. Namun ketika mereka menikah, mereka tinggal di kota kecil dan ayah Dam hanya menjadi pegawai kantoran biasa. Mereka hidup dalam kesederhanaan dan kejujuran, tetapi tidak kehilangan sedikit pun kebahagiaan. Bahkan dihormati dan dihargai semua orang, oleh pemain bola terkenal dunia sekali pun!

Berubahlah hidup saya, cara berpikir saya. Bukan ketenaran yang nanti akan membuat saya bahagia, melainkan sejauh apa kebaikan yang saya bisa berikan ke orang-orang sekitar saya. Dari situ muncullah prinsip “happiness is indeed simple” dan “stay positive all the time” yang kedepannya akan menjadi motto saya. Berusaha melihat sisi positif dari segala sesuatu dan menciptakan kebahagiaan dari hal-hal sederhana sekali pun.

Ayah tidak menjadi hakim agung. Ayah memilih jalan hidup sederhana. Berprasangka baik ke semua orang, berbuat baik bahkan pada orang yang baru dikenal, menghargai orang lain, kehidupan, dan alam sekitar. Itu jalan hidup ayah. Dan itu juga yang dipilih ibu kau. Apakah Ayah dan ibu kau bahagia? Kalau kau punya hati yang lapang, hati yang dalam, mata air kebahagiaan itu akan mengucur deras. Tidak ada kesedihan yang bisa merusaknya, termasuk kesedihan karena cemburu, iri, atau dengki. Sebaliknya, kebahagiaan atas gelar hebat, pangkat tinggi, harta benda, itu semua tidak akan menambah sedikit pun beningnya kebahagiaan yang kau miliki.

(halaman 294)

Ya Allah, cari di mana suami seperti ayah Dam? 😎

***

Saya sangat merekomendasikan buku ini bagi kalian yang ingin mengetahui hakikat kebahagiaan sejati. Bahasa buku ini sangat mudah dipahami meskipun alurnya maju-mundur. Bahkan kalau bisa calon ayah anak-anak saya nanti baca juga deh buku ini supaya paham kalau kesederhanaan itu memang menenteramkan. Hehehe. *sumpel mulut pakai mangga muda*

Terima kasih atas buku hebat ini, bang penulis! Mungkin Anda tidak pernah tahu betapa “kacau”nya hidup saya di awal 2012 dan buku Anda telah mengubah hidup saya, membuat saya bangkit dari segala rasa sedih. Semoga Allah membalasnya. 🙂

…hidup harus terus berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan atau seberapa membahagiakan, biarkan waktu yang menjadi obat.

(halaman 242)

ayahku-bukan-pembohong

Penulis: Tere-Liye

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 304 halaman (20 cm)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s