Surat untuk Papa

Bontang, 9 Juni 2014

untuk: Bapak Imam Suharso Tjarma

 

Assalamu’alaikum,

Papa apa kabar? Kakak harap papa selalu dalam keadaan sehat, dilindungi Allah, dan selalu penuh limpahan kasih sayang Allah. Sebelumnya kakak minta izin untuk menuliskan surat ini, surat yang berisi kalimat yang belum pernah terucap, ungkapan yang mungkin susah terungkap, dan perasaan yang bisa jadi tak tersampaikan.

Tahu tidak, kalau kakak dan dek Puspa begitu sayang sama Papa? Sulit buat papa untuk percaya, kami tahu. Itu karena tiap bertemu papa, kami berdua lebih banyak diam dan hanya berbicara seperlunya. Mungkin karena kami rindu, Pa. Frekuensi kakak dan dek Puspa bertemu papa tidak lebih banyak dibanding tidak bertemu papa. Padahal kami pun tahu papa juga memendam kerinduan pada kami, terpancar dari mata papa yang biasanya memerah dan mulai menampung genangan air dari kelenjar-kelenjar mata.

Andai papa tahu, bahwa sesungguhnya dalam diam itu kami sedang memperhatikan papa. Papa yang tiap harinya bertambah tua, uban papa mulai tampak banyak, dan mungkin kekuatan otot gerak papa tidak sedahsyat dulu saat muda. Sesekali kakak melirik papa, mengamati badan papa yang terlihat tidak gemuk, yang membuat kakak sedih karena jarang mengurus papa. Oh, bahkan mungkin tidak pernah. 😦

Maafkan kakak ya Pa seandainya hingga saat ini kakak belum bisa membanggakan dan membahagiakan papa. Jujur, kakak selalu berusaha. Keluarga selalu menaruh harapan pada kakak agar kakak bisa menaikkan derajat orang tua. Entah kakak sudah berhasil atau belum, kakak pun sama sekali tidak tahu jawabannya.

Pa, papa mungkin bukan papa yang sempurna untuk kakak dan dek Puspa. Tapi kehadiran papa nyata untuk kami berdua. Papa yang selalu percaya kami bisa dalam hal apa pun, papa yang selalu menanyakan shalat kami, papa yang selalu berdoa untuk kami, papa yang rela menghabiskan makanan kami jika tidak habis, dan hanya papa satu-satunya yang masih memanggil kakak dengan nama kecil kakak: “Enon”.

Mungkin papa tidak sadar kalau papa banyak memberikan pelajaran hidup untuk kakak. Papa selalu membantu orang lain meskipun papa sendiri dalam keadaan sulit, papa tidak pernah membalas siapa pun yang (mungkin) pernah zhalim pada papa, papa yang selalu berusaha menghibur keponakan dan cucu-cucunya, papa yang selalu memilih diam tidak mengumbar kesulitan yang mungkin papa rasakan. Untuk itu, kakak berterima kasih. Kakak akan contoh.

Hari ini teriring doa untuk papa agar papa selalu diridhoi Allah dalam tiap langkah hidupnya, papa dicukupkan rezekinya, papa selalu sehat dan bahagia, dijauhkan dari segala penyakit, juga disembuhkan jika sedang menderita sakit. Doakan kakak dan dek Puspa agar bisa memenuhi harapan papa, agar kami berdua bisa menjadi anak sholihah yang bisa menjadi pelita serta penyelamat orang tua di dunia dan akhirat.

“…dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

(Q.S. Maryam: 33)

Selamat ulang tahun, Papa! 🙂

 

Salam sayang,

Dini Fitriani Tjarma

Advertisements

3 thoughts on “Surat untuk Papa

  1. Pingback: 10K Hits | Kasten Verhaal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s