Husnuzhan dengan Ketetapan Allah

Akhirnya ada keberlanjutan dari tulisan ini. Udah pada nungguin ya? (Mak! Pede amat ya saya, kayak ada aja yang baca!) *terjun dari gedung pencakar langit*

***

Qodarullah, pengumuman akhir dari segala proses S2 menyatakan saya tidak diterima. Masih tetap sebagai cadangan, tidak berubah. Sedih? Tentu saja. Melanjutkan studi pascasarjana adalah salah satu impian saya. Bagi saya, memperjuangkannya selama beberapa bulan kebelakang bukan hal main-main. Ada hal yang harus dikorbankan demi mencapai impian tersebut. Sedikit perasaan kecewa pun sempat hinggap.

Kekecewaan itu lebih kepada kecewa terhadap diri saya sendiri. Saya merasa telah mengecewakan mereka yang telah membersamai impian ini. Mereka yang percaya bahwa saya mampu, yang bahkan kepercayaan mereka melebihi rasa percaya saya terhadap diri sendiri. Mereka yang bisa jadi menyelipkan doa pada Yang Maha Kuasa untuk memuluskan jalan saya menggapai cita. Kemudian di akhir saya hanya bisa mengecewakan mereka. Ya, jujur itulah yang paling membuat saya sedih.

Din, ba a kabanyo Sweden ko? Gimandose gimandose gimandoseeeee?” -Myg

Swediamu gimana, Din?” -Ddn

Dini sayang, gimana pengumumannya?” -An

Tiga orang teman baik itu yang tiba-tiba menanyakan di hari pengumuman (cieee pada ingat).ย Lalu, mereka pun melanjutkan dengan kalimat-kalimat yang membesarkan hati saya setelah saya jawab tidak diterima. I felt loved, really. Meskipun terdengar naif, tetapi saya senang bahwa mereka berkata demikian. At least, perasaan kecewa itu sedikit bisa hilang.

Sekarang tinggal mengatur hati saya sendiri agar bisa memiliki pemahaman yang baik dari ketetapan Allah ini. Alhamdulillah sedih itu pun hanya sementara karena akhirnya saya bisa mengambil sisi positif dari perjalanan ini.

  1. Bisa jadi usaha saya berbulan-bulan lalu kurang optimal di mata Allah meskipun bagi saya sudah 100% usahanya. Kalau mau mencoba lagi, usaha yang berikutnya harus lebih besar dari yang lalu.
  2. Bukan rezeki saya untuk sekolah S2 tahun ini. Saya bisa mencoba di tahun-tahun berikutnya, bahkan bisa jadi sekolahnya bersama suami (seperti Kak Uti dan suaminya yang sama-sama dapat beasiswa di Glasgow, UK). Aamiin.
  3. Berarti saya masih dibutuhkan di rumah. Dengan tidak diterimanya saya, itu artinya saya akan berada di rumah lebih lama lagi. Kalau dulu waktu kuliah saya dan teman saya sering berkata, “Ladang amal itu ada di mana-mana.” Sekarang saatnya saya menanam amal di rumah, dengan mengabdi pada keluarga, dengan membantu mama mengurus adik-adik dan menyelesaikan tugas kuliah mama.
  4. Berlanjutnya saya untuk membantu mama mengerjakan tugas kuliah, itu artinya saya dapat mempertajam kemampuan dalam membuat tugas-tugas ilmiah. Pilihan utama saya untuk S2 adalah ilmu yang berkaitan dengan anak-anak karena saya mau memperdalam itu. Kemarin memilih “Child Studies” di pilihan pertama dan kebetulan jurusan mama pun berhubungan dengan anak-anak. Ini artinya saya mempunyai waktu lebih lama untuk memperdalam teori agar nantinya sudah memiliki gambaran akan riset tesis S2.
  5. Batalnya saya melanjutkan S2 menandakan bahwa itulah ketetapan terbaik Allah untuk saya dan sudah menanti rencana lebih baik yang Allah siapkan untuk saya.
Sumber: koleksi pribadi

Source: personal gallery

Kira-kira itulah beberapa pemahaman saya atas hasil proses ini. Pemahaman yang saya harap akan terus menghibur saya, membawa saya jauh dari kekecewaan, mengantarkan saya pada keikhlasan, dan menggiring saya untuk terus berusaha menggapai impian.

***

Hebatnya skenario Allah, beberapa hari sebelum pengumuman akhir, ada rekomendasi dari beberapa teman untuk bekerja di fakultas saya dulu. Beberapa hari setelah pengumuman pun, pimpinan fakultas secara langsung mengirimkan pesan singkat pada saya untuk segera memasukkan lamaran. Saya berdoa, minta petunjuk Allah, memohon restu mama, dan akhirnya menjalani prosesnya. Hingga saat ini saya masih menunggu hasil interview. Masya Allah!

“…Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.โ€

(Q.S. Al-Baqarah: 216)

Saya yakin semua yang telah dan akan terjadi dalam hidup saya adalah yang terbaik dari Allah. Allah knows everything better than I could think of. Impian melanjutkan studi itu masih tetap ada, dan saya yakin akan tiba saatnya pada waktu terbaik menurut Allah. Sekarang saya akan menjalani apa yang ada di depan saya dengan terus mengharap ridha Allah untuk tiap langkah saya.

Terakhir saya ingin bilang,

“Mari kita sama-sama terus berkhusnudzan terhadap ketetapan Allah!”

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Bontang, 31 Mei 2014. Semoga makin dewasa dalam pemikiran dan emosi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s