Karena Kita Tidak Tahu #17

Sejak SMP hingga SMA, saya bersekolah di Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra (YPVDP/Vidatra). Dulunya—hingga saya lulus SMA, sekolah ini hanya diperuntukkan bagi anak-anak karyawan PT Badak NGL, TNI/POLRI, dan pejabat pemerintahan. Jadi, anak-anak di luar itu tidak bisa bersekolah di Vidatra. Sekarang sudah berbeda. Semenjak yayasan berpindah tangan, orang “umum” pun bisa bersekolah di sana. Namun bukan itu yang mau saya bahas, melainkan saat zaman saya dulu.

Saya bukan anak karyawan PT Badak NGL, bukan pula anak TNI/POLRI, atau pun pejabat pemerintahan. Saya berasal dari keluarga biasa-biasa saja ( tapi orang tua saya luar biasa 🙂 ). Saya lupa sejak tahun berapa, akhirnya ada program beasiswa dari PT Badak NGL bagi lulusan SD se-Kota Bontang yang bukan anak karyawan. Sejak kenaikan kelas 6, saya sudah memiliki keinginan untuk bersekolah di sana. Pemikiran saya saat itu begitu simple, orang tua saya tidak perlu repot lagi memikirkan biaya SMP saya.

Saya pun akhirnya menemui kepala sekolah SD saya secara langsung usai ujian akhir. Saya tanpa basa-basi bilang ingin direkomendasikan untuk mengikuti tes masuk SMP Vidatra mewakili sekolah saya. Pada tahun 2003 itu, tiap SD hanya boleh mengirimkan 3 orang perwakilannya untuk mengikuti tes. Ternyata bapak kepala sekolah sudah mengantongi nama saya. Hehehe jadi malu sampai memohon segala ke ruangan kepsek saat itu.

Singkat cerita, saya pun mengikuti segala proses seleksinya. Ujian tertulis selama dua hari, masuk 15 besar, wawancara dengan pihak pemberi beasiswa, hingga akhirnya terpilih menjadi 10 besar siswa penerima beasiswa. Saya telat mengetahui hasilnya. Papa baru mengabari tepat di hari pertama orientasi sekolah! Jadilah saya buru-buru bersiap menuju SMP YPVDP. Sampai di sana, saya paling beda sendiri. Tidak tahu ada di kelompok mana, atribut apa saja yang harus digunakan, juga tidak mempunyai buku MOS. Padahal info MOS sudah disosialisasikan oleh kakak panitia seminggu sebelumnya. Ya iyalah saya nggak tahu, wong baru tahu jadi murid di sana pas hari-H MOS. Ckckck.

Nah, kehidupan baru saya pun dimulai…

***

Awal mulanya saya sama sekali tidak tahu seperti apa calon teman-teman baru saya. Mereka yang anak karyawan PT Badak NGL, mereka yang sudah bersama sejak TK, bahkan rumah mereka saling berdekatan. Saya baru tahu kalau saya “berbeda” ketika pertama kali ke rumah salah seorang teman di PC IV (sebutan perumahan PT Badak NGL) untuk mengerjakan tugas. Itu adalah kali pertama saya menyusuri kompleks PT Badak. Dulunya saya cuma tahu Pantai Marina saja hehe. Saat masuk ke rumahnya, dalam hati saya berpikir, “Wah, bagus banget! Rumahnya enak banget ada ACnya. Komputernya bagus.

Kompleks PT Badak NGL. Source: http://www.badaklng.co.id/safety.html

Kompleks PT Badak NGL. (Source: http://www.badaklng.co.id/safety.html)

Sejak itu pun saya mulai minder. Apalagi ketika di minggu pertama saya memakai batik SD saya dulu, bukan batik seragam SMP Vidatra karena saya telat mengukur seragam (berhubungan juga dengan telat tahu diterima 😛 ). Semua mata tertuju pada saya dan teman-teman beasiswa lain. Kami, anak-anak beasiswa, biasa pulang dan pergi dengan angkot, sedangkan teman-teman lain kebanyakan diantar jemput dengan mobil. Macam di Laskar Pelangi aja kan ya, kayak sekolahnya PN Timah itu loh.

Iya benar, memang awalnya minder. Kami bukan anak karyawan. Kami dari keluarga biasa yang bisa bersekolah di sana dengan beasiswa. Uang SPP, uang buku, uang seragam kami ditanggung. Bahkan kami juga mendapat uang makan serta transportasi. Sungguh “berbeda” dengan yang lain. Hingga akhirnya beberapa dari mereka meruntuhkan segala tembok penghalang itu. Mereka mau menjadi teman kami!

Raras Tulandaru salah satunya. Dia adalah ketua kelas pertama saya. Saat pemilihan pengurus kelas di awal, dia pun memilih saya untuk menjadi bendahara kelas. Entah karena apa alasannya, yang jelas dengan itu saya mulai bisa berinteraksi dengan teman-teman yang lain (paling tidak dengan teman-teman kelas). Di lain waktu dia tanpa ragu meminjamkan uangnya untuk membayar pelatihan ESQ karena di hari terakhir pembayaran saya lupa membawa uang. I’ll never forget all her kindness.

Perlahan saya pun mulai kenal dan dekat dengan yang lain. Dengan Amal, dengan Mayang, dengan Chandra, dengan Rizal, dan yang lainnya. Saya mulai berani mengemukakan pendapat dengan mereka, mulai terlibat dalam acara organisasi, mulai mengikuti lomba seperti mereka, dan lain sebagainya hingga saya lupa saya pernah merasa minder di hadapan mereka. Pertemanan itu rupanya begitu tulus dan berlanjut hingga SMA, bahkan hingga sekarang. Tidak ada perbedaan antara anak karyawan dan non-karyawan, semuanya berteman.

Hingga hari ini saya begitu bersyukur bisa menjadi salah satu murid beasiswa di Vidatra. Saya menghabiskan waktu 6 tahun saya di sana untuk tumbuh dan berkembang. Dari saya yang begitu minderan dan tidak percaya diri menjadi saya seperti sekarang ini. Saya mengenal teman-teman yang begitu baik hati, yang mau menerima saya dengan apa adanya saya, tanpa memandang latar belakang saya. Saya belajar banyak dari mereka bahwa dengan segala apa yang mereka punya (dalam hal ini materi), mereka tetap menjadi pribadi yang rendah hati, tidak ragu menolong saat mampu. Untuk itu, tak henti-hentinya terima kasih saya pada mereka.

***

What’s the point of my stories?

Prasangka.

Saya yang awal mulanya berprasangka bahwa mereka adalah anak orang kaya, saya “berbeda”. Mereka tidak mau berteman dengan saya karena papa saya bukan orang perusahaan. Mereka tidak mau dekat dengan saya karena saya tidak punya mobil bagus seperti mereka, tidak pernah liburan sering-sering ke luar kota atau bahkan luar negeri seperti mereka.

Padahal itu semua hanya tampak luarnya saja, apa yang terlihat dari mata saya. Lahiriah mereka. Itu karena saya tidak tahu dalam hati mereka, bagaimana sebenarnya perangai mereka. Batiniah mereka. Hingga akhirnya saya dekat dengan mereka dan hilanglah segala prasangka itu. Mereka tidak seperti prasangka saya. Mereka jauuuuuh lebih baik dari itu.

Allah lah sebaik-baik dan sebenar-benarnya Hakim di dunia ini. Mari hilangkan prasangka negatif! Karena mata kita, mata manusia, terlalu kecil untuk menilai segala sesuatu.

Advertisements

2 thoughts on “Karena Kita Tidak Tahu #17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s