Duka Kemarin

Selasa, 15 April 2014…

Taken by me

Taken by me

Langit cerah Bontang pagi itu mengantarkan kepergian salah satu anggota keluarga kami ke tempat peristirahatan terakhirnya. Duka mendalam begitu dirasakan oleh kami sekeluarga. Bagaimana tidak? Almarhum adalah sebaik-baiknya sosok yang pernah kami kenal.

Pagi itu saya terbangun oleh mama yang masuk ke dalam kamar dan mengatakan bahwa om saya dibawa ke rumah sakit. Info yang mama dapat adalah om tidak merespon ketika dibangunkan dan terdengar suara “mengorok”. Firasat saya sudah tidak enak.

Benar saja! Tidak berapa lama setelah telepon pertama, terdengar deringan telepon kedua. Kabar duka itu pun kami terima. Om saya meninggal dunia. Pecahlah tangis mama dan saya subuh itu. MCI atau Miocardiac Infarction atau lebih dikenal oleh masyarakat awam sebagai “serangan jantung”, saya rasa adalah penyebabnya. 😦

Innalillahi wa innailaihi raaji’uun

Mama segera menuju ke rumah sakit, sedangkan saya mengurus adik-adik dulu untuk berangkat sekolah. Kemudian saya langsung menuju rumah duka. Sesampainya di sana, sepupu saya Pimpy (anak kedua almarhum) langsung menangis memeluk saya. Ya Allah, tolong kuatkan keluarga ini.

Satu persatu keluarga dan kerabat mulai berdatangan. Semua turut membantu proses untuk mengurus jenazah. Beberapa yang datang bahkan membawakan kapas, kapur barus, juga sarung tangan demi keperluan memandikan jenazah. Hingga setelah dikuburkan kami keluarga menyadari kalau semua berlebih. Tidak kekurangan sama sekali. Alhamdulillah.

Menjelang dzuhur jenazah pun dikuburkan. Saya menaiki mobil yang sama dengan tante saya (istri almarhum). Kami pun kaget ketika keluar rumah sudah ada tiga karangan bunga dan antrian mobil+motor pelayat memanjang hingga lampu merah jalan utama. Begitu banyak yang datang sampai jalanan pun macet. “Om saya benar-benar orang baik“, pikir saya melihat padatnya pelayat.

***

Selesai dikuburkan, saya ikut berkumpul dengan keluarga di rumah duka. Hampir semua keluarga datang berkumpul. Semua sedih, semua menangis.

Sepinya. Biasanya dengar suara almarhum suka nyahutin obrolan“, ucap tante saya yang paling muda (adik bungsu mama).

Di mana lagi kamu bisa nemuin ipar sebaik itu?“, mama pun menimpali.

Paling baik sudah itu“, tante yang satu menyetujui.

Nyata. Selalu memikirkan orang lain, ga pernah diri sendiri. Makanya banyak yang bantuin kan, itu aja berlebih semua“, kata tante yang lain sambil menunjuk sisa kapas.

Dan sebagainya dan sebagainya ucapan-ucapan mengenai kebaikan almarhum. Saya pun sangat sepakat. Saya tidak punya ikatan darah apa-apa dengan beliau, tetapi begitu merasakan kehilangan. Saya sempat tinggal dengan om ini dari kelas 6 SD-2 SMP. Dulu anak pertamanya suka saya jagain, saya buatkan susu, saya mandikan.

Sekarang tidak ada lagi om yang selalu riang, om yang dekat dengan semua anak dan keponakannya, om yang tidak pernah terlihat marah, om yang tidak pernah mengeluh saat dimintai pertolongan, om yang selalu menjemput keluarga saya tiap tahun untuk berlebaran di rumah nenek, om yang ahli mesin, om yang ahli memperbaiki alat-alat yang rusak, om yang sederhana, om yang selalu membantu keponakannya dari Jawa untuk mendapat pekerjaan di Bontang, om yang paling baik. Bahkan om saya ini juga yang sigap menjemput saya ketika jatuh sebulan lalu (ceritanya di sini).

Om, kami semua menyayangi om. Kami semua kehilangan. Bahkan saat mengetik ini saya masih saja menangis karena mengenang kebaikan-kebaikan om. Om tidak usah khawatir karena om juga pasti tahu bahwa keluarga besar Datuk Makmur selalu membantu satu sama lain. Mama dan saudaranya semua pastinya akan membantu serta mendampingi istri om demi masa depannya dan masa depan anak-anak om.

Saya begitu mencintai keluarga besar saya. Kami pun semua akan ke “sana”, hanya waktunya belum datang saja. Semoga kita semua akan berkumpul kembali di surga-Nya. Di sana kita tidak akan terpisah lagi, akan terus bersama-sama.

Ya Allah, lapangkanlah kuburnya. Terangilah kuburnya. Ampunkan segala dosa-dosanya. Terimalah seluruh amal kebaikannya. Aamiin.

“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (Q.S. Ali Imran: 185)

“Jika seseorang manusia mati, terputus darinya amalnya kecuali 3 (perkara): shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang berdoa baginya.” (H.R. Muslim)

Semoga Allah selalu merahmatimu, Om Juwadi. 🙂

Om Juwadi yang meninggalkan satu istri dan tiga anak

Om Juwadi yang meninggalkan satu istri dan tiga anak

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s