Ohana

Tepat sebulan lalu saya dilarikan ke Unit Gawat Darurat RSUD Bontang karena jatuh dari ketinggian. Retak pada tulang membuat nyeri teramat sangat yang tak tertahankan. Dengan bantuan om yang sigap menjemput dengan mobilnya, saya pun dibawa dalam pangkuan mama sambil meringis tertahan.

Saya akhirnya terbaring lemas beberapa jam di UGD. Mama dan abi menemani tiada henti. Bahkan mama harus bolak-balik mengurus administrasi. Papa pun kalau ada di sana, saya yakin akan melakukan hal serupa. Om harus kembali menjemput sang istri untuk pergi melayat ke rumah kerabat.

Selama beberapa jam itu, saya merasakan betul bagaimana cintanya orang tua pada anaknya. Mama yang menemukan anaknya pertama kali terkapar tak berdaya di belakang rumah terus menampakkan raut kecemasan di wajahnya. Takut putri sulungnya kenapa-kenapa. Alhamdulillah tidak apa-apa. Mungkin lain cerita jika kepala saya ikut terbentur keras. Maha Besar Allah, hal itu tak pernah terjadi.

Beberapa menit sebelum adzan dzuhur, tante dan om saya pun datang menengok. Mereka datang dengan anak pertama dan bude yang bekerja pada tante. Bude ialah yang masuk pertama kali dan cukup lama menemani saya. Dari orang tua sepuh itu saya semakin memahami arti sebuah keluarga. Keluarga besar saya lebih tepatnya.

Dari pulang ngelayat ya, Bude? Sudah dikuburkan kah?“, saya membuka percakapan.

Iya, Mbak Dini. Kalau bude sudah dari semalam di sana. Tante Ida sama Om Ju nyusul. Tadi sudah dimandikan, tapi belum dikuburkan. Masih lama katanya. Cuma karena tadi Om Ju bilang Mbak Dini jatuh, bude maksa minta ke sini. Habis Om Ju bilang Mbak kesakitan banget kayaknya, merem terus matanya.

Hehehe. Alhamdulillah aku nggak kenapa-kenapa, Bude. Nggak perlu operasi, nggak jadi rawat inap juga.

Oh, syukurlah. Tadi pokoknya sama Tante Ida mau cepat-cepat ke sini. Gimana pun harus mendahulukan keluarga. Sudah selesai melayat, masa’ keluarga sendiri nggak dipeduliin.

Aih, terharu bukan main! Setelah itu bude lanjut menceritakan hal lain, yang membuat saya merasa kaya akan nilai-nilai kebijakan hidup dari cerita beliau. Terima kasih saya pada mereka semua mungkin takkan cukup, semoga Allah membalas dengan kebaikan-kebaikan yang lebih berlipat-lipat.

image

“You don’t choose your family. They are God’s gift to you, as you are to them.”

(Desmond Tutu)

*Ohana = family

Advertisements

One thought on “Ohana

  1. Pingback: Kasten Verhaal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s