Kunamai Itu Dengan

Aku ingat pertama kali bertemu dengannya. Saat itu Masa Orientasi Siswa Sekolah Menengah Pertama. Kami sama-sama memakai pakaian olahraga. Jumat sore kala itu, jadwal outbond dilaksanakan. Setelah kuamati, ternyata kami sama-sama kelebihan lemak pada pipi.

Aku ingat pertama kali mengenalnya. Kami satu kelas sejak tahun pertama hingga lulus SMA. Awal mula aku ragu-ragu menyapanya, tetapi ia tersenyum ramah penuh sahaja. Sorot matanya mengisyaratkan penerimaan sempurna. Tak ada lagi dinding tebal penghalang di antara kami berdua.

Aku ingat pertama kali mendengarnya berbicara. Banyak kebaikan-kebaikan keluar dari bibirnya. Kuyakin itu bersumber pada hati lembutnya. Ia pandai dalam bertutur kata. Perangainya pun hampir tanpa cela.

Aku ingat ketika mengantarnya ke bandara. Kupikir kami akan terbentang jarak begitu jauhnya. Ternyata hanya berjarak Depok dan Jakarta. Kadang kami berbagi perjuangan menjadi kuat di ibu kota. Tak jarang kami membagi gurauan bersama. Selera humor kami tak jauh berbeda.

Aku mengaguminya, lebih dari yang bisa ia tahu. Ia yang memberikan kebaikan untukku. Ia yang terkadang mengomel saat aku lupa memperhatikan makanku. Ia yang cerdas, yang keibuan, yang ramah, yang cekatan, yang selalu rapi, yang pandai membawa diri, yang bahkan dengan kata pun sampai sulit digambarkan.

Namun, segala perjalanan sebelas tahun ini bisa kunamai dengan persahabatan. Terima kasih, kawan.

Untuk ia yang bertumbuh bersama saya,

Mayang

Advertisements

One thought on “Kunamai Itu Dengan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s