Cerpen: Teka-Teki Ayah

Alarm berbunyi seperti tanpa fungsi. Aku bangun setengah jam lebih awal sebelum bunyinya berdering memekakkan telinga. Mimpi yang terus-menerus sama tiga hari ini membuatku terbangun. Langsung saja kutelepon kakakku agar resah di hati sedikit hilang.

“Suatu saat kamu akan sadar satu hal tentang ayah, dek.” Mas Tirta mengucapkan itu sebelum menutup telepon.

Sebaiknya aku segera mengambil wudhu dan segera mandi. Pak Firman sedari kemarin sore sudah berulang kali mengingatkan bahwa hari ini aku harus sampai di kantor tepat waktu. Akan ada syukuran kecil pagi ini. Aku tidak bergairah. Tidak sama sekali.

***

“Ini dia jagoan kita! Selamat ya, Tita”, semua orang di kantor menyelamati dan menyalamiku.

Tita Alamanda Putri namaku. Aku diberikan penghargaan karyawan terbaik bulan ini atas keberhasilanku mendapat berita gembong narkoba yang sudah menjadi buronan berbulan-bulan. Pagi ini Pak Firman, atasanku, mengadakan acara makan-makan di kantor. Profit perusahaan naik pesat karena berita itu. Surat kabar kami menjadi media cetak pertama yang menuliskannya.

Dunia jurnalistik sudah menjadi kawan baikku sejak di bangku kuliah. Mas Tirta begitu senang saat mengetahui adik satu-satunya menjadi pemimpin redaksi majalah universitas. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ayah. Sejak memutuskan untuk mengambil jurusan komunikasi, ayah selalu bersitegang denganku. Entah alasan apa yang membuat ayah tidak pernah menyetujui keinginanku. Hal itu masih menjadi teka-teki.

Sampai hari ini ketika aku sudah memiliki rumah sendiri, ayah masih tetap dingin kepadaku. Kami jarang berbicara. Aku bukan satu-satunya yang memiliki masalah dengan ayah. Kakakku pun demikian. Ayah juga marah besar saat Mas Tirta memilih karier menjadi seorang hakim.

“Tita…”, Pak Firman memutus lamunanku.

“Iya, Pak?”

“Setelah istirahat makan siang nanti saya mau kamu langsung bertugas.”

“Beres, Pak. Asal saya ditemani dengan tim saya seperti biasa. Kiki dan Leon.”

“Terserah kamu saja. Saya mau kamu mendapat berita kelangkaan minyak tanah.”

“Perintah diterima, Pak.”

***

Setelah shalat dzuhur, aku langsung berangkat bertugas. Aku akan mewawancarai beberapa pedagang minyak tanah terlebih dahulu, sedangkan Kiki mencari data ke Pertamina dan Leon akan mengumpulkan opini publik serta pengamat. Dua jam berlalu dan perutku sudah berontak minta ditambah energi. Aku pun memutuskan untuk makan ketoprak di pinggir jalan.

Tiba-tiba telepon genggamku berdering. Ayah mengirimkan sms.

“Dek, selamat ulang tahun ya.”

Beliau hanya menuliskan itu. Panasnya Jakarta siang itu tiba-tiba tidak terasa setelah membaca pesan ayah. Dalam hati aku berpikir bahwa mungkin ini saat yang tepat untuk memperbaiki hubunganku dengan ayah. Selepas menyerahkan uang pada pedagang ketoprak, aku akhirnya memilih berjalan kaki ke arah rumah ayah yang tidak begitu jauh dari tempatku sekarang berada.

Jalan Lily nomor satu, tempat ini masih sama seperti terakhir kali aku ke sini. Aku pun menyapa karyawan ayahku yang ada di depan pagar. Mereka mengatakan kalau ayah sedang pergi sebentar. Setelah mengucapkan terima kasih, aku berjalan ke arah belakang rumah.  Tempat ini tetap rindang. Pohon dan bunga yang selalu dirawat almarhumah ibu masih tetap di tempatnya.

Aku tidak langsung masuk ke rumah. Entah kenapa kakiku bergerak ke gudang di belakang rumah, tempat masa kecilku dan kakak untuk bersembunyi kalau ibu sudah mulai menyuruh kami mandi. Jantungku berdetak sedikit kencang ketika mendekati gudang itu. Ada satu jendela pecah di sebelah pintu, biasanya kunci diletakkan di dekat situ. Seperti dugaanku, akhirnya pintu berhasil kubuka. Jantungku berdetak semakin kencang saat berada dalam gudang itu bersamaan dengan pesan masuk dari Kiki di telepon genggamku.

“Ta, Pertamina menaruh curiga terhadap salah satu agen minyak tanah di Jakarta Selatan. Ini alamatnya, kamu langsung ke sana ya. Jalan Lily no.1 Jaksel.”

Ya Tuhan, ternyata ayahku………………………seorang penimbun.

***

[Cerpen ini pertama kali saya buat saat kelas 2 SMA untuk sebuah lomba. Tapi karena arsipnya yang ada di dalam flashdisk hilang, saya pun mengetik ulang cerita ini. Ya kurang lebih alurnya seperti ini hehe.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s