Mutia

Banyak kisah selama masa empat tahun perkuliahan yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Salah satunya adalah masa-masa praktik. Saya bersyukur sekali bisa berada dalam lingkungan FIK UI karena saya ada di antara orang-orang yang sama-sama belajar untuk menghargai manusia, dari bayi hingga lansia.

Praktik di kampus kami dibagi-bagi sesuai dengan tumbuh kembang manusia. Ada praktik yang berhubungan dengan anak, dengan dewasa, juga dengan lansia. Ada lagi yang masuk dalam lingkungan masyarakat, seperti praktik dalam keluarga, dalam komunitas anak jalanan, atau pun dengan kelompok pekerja. Yang mau saya kisahkan sekarang adalah salah satu praktik ketika semester tujuh, yaitu Praktik Keperawatan Anak (PKA).

Pihak akademik membagi PKA dalam beberapa area, satu di antaranya adalah praktik di Sekolah Luar Biasa (SLB). Kelompok saya saat itu berkesempatan menjalani praktik di Panti (Luar Biasa) Nusantara di daerah Depok. Praktik diawali dengan pertemuan khusus kami dan fasilitator bersama kepala pengelola panti. Kami mendengarkan dengan saksama perjalanan Bapak yang baik hati itu dalam menjalankan panti. Masya Allah, kalian akan lihat ketulusan terpancar dari matanya ketika bercerita.

Kami pun mulai berinteraksi dengan teman-teman di sana. Iya, teman-teman. Karena yang belajar di sana beragam umurnya, dari usia pra sekolah hingga ada yang berusia 40 tahun. Teman-teman di sana pun kasusnya bermacam-macam, seperti cerebal palsy, hiperaktif, tuna rungu, down syndrome, dan sebagainya. Saya ini entah kenapa sejak dahulu kala selalu tertarik dengan teman-teman tuna rungu. Berbekal dengan pengetahuan yang sudah saya punya dan ilmu yang sudah didapat di kelas, saya pertama berinteraksi dengan salah satu teman tuna rungu. Perkenalkan adik saya, Mutia. 🙂

Di sela-sela praktik bersama Mutia

Di sela-sela praktik bersama Mutia

Cantik ya? Sekilas tidak terlihat bukan keunikan dari Mutia? Wajah cantiknya, senyum manisnya. Saya belajar banyak dari adik saya ini. Selain ilmu ISL (Indonesian Sign Language alias bahasa isyarat) bertambah, saya juga belajar kehidupan darinya.

Waktu itu saya mengajak Mutia untuk memperkenalkan saya dengan teman-temannya (yang juga tuna rungu) yang lain. Saat saya datang, mereka sedikit bingung dan ada yang takut. *muka saya seram ya hiks* Namun, Mutia dengan senyum manisnya menyampaikan ke temannya dalam bahasa isyarat, “Jangan takut. Kakak ini baik. Kakak ini mau belajar. Ayo sini belajar sama-sama.

Begitulah bagaimana seorang Mutia yang baru kelas 5 SD berhasil meyakinkan teman-temannya. Mutia yang di usianya yang masih muda diuji Allah dan mampu bersabar atasnya. Mutia yang semangat mencari ilmunya tidak padam di tengah-tengah kondisinya. Mutia yang penuh keramahan pada siapa saja, pada orang yang baru dikenal sekali pun. Mutia yang mau membagi ilmunya.

Masih ada yang membuatmu tidak bersyukur, Din?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s