Cerpen: Pertama

Sebelas tahun lalu awal jumpa melihatmu. Kau begitu lugu di mataku. Anak cerdas yang baru lulus sekolah dasar sama sepertiku. Wajah teduhmu membuatku menyunggingkan senyum kali pertama melihatmu. Ah, ada apa kiranya dengan diriku?

Tidak butuh waktu lama di sekolah baru itu agar semua orang menyukaimu. Kau seorang yang menyenangkan! Sungguh, semakin aku mengagumimu dengan perangai baikmu, mudahnya dirimu menambah teman-teman baru, dan segala yang ada pada dirimu.

Bertahun-tahun kita selalu berada dalam satu kelas. Aku berusaha mengimbangimu yang begitu membanggakan di mataku. Prestasimu selalu nomor satu. Satu-satunya kesempatan aku bisa unggul darimu hanya saat mata pelajaran olahraga. Kau selalu membuat seisi kelas tertawa kalau kau berhubungan dengan bola. Bola apa saja. Bola basket, bola voli, bola kasti, bahkan bola pingpong sekali pun.

Pertemanan kita terus berjalan dari tahun ke tahun. Tak terhitung berapa lomba dan kegiatan lainnya kita habiskan bersama. Aku selalu bahagia kalau kau ada di sana. Melihat sesimpul senyummu atau mendengarmu tertawa. Seakan itu hal paling indah di dunia.

Duhai, tersiksa sekali sebenarnya diriku dengan segala yang kurasa. Kau tak pernah tahu saja yang menumpuk di dasar hati sana. Susah payah bersikap sewajarnya selama bertahun-tahun demi menjagamu, menjaga perasaanmu, menjaga segala kesucian hatimu. “Selama kau bahagia, kau tak perlu tahu“, itu prinsipku.

Ketersiksaan itu semakin terasa di bangku kuliah. Jarak kita semakin jauh membuatku menumpuk jutaan rindu yang hanya bisa kuutarakan dalam lantunan doa. Kau di Yogyakarta, aku di Jakarta. Berulang kali kuyakinkan diri ini kalau belum saatnya kuungkap semua. Biar dulu kau terbang bebas dengan sayap yang kau punya, mencapai segala asa yang semakin jauh kusamai langkahnya.

Tahun pertama, kedua, ketiga, tak pernah lagi kita bertatap muka. Hanya sesekali bertegur sapa sekadarnya di social media. Tuhan, bagaimanalah menyudahi rindu ini yang semakin memilukan?

Rupanya doaku terjawab di tahun keempat. Wajah teduh itu terlihat lagi di depan mataku, tepat sehari setelah operasi kankerku. Aku divonis kanker paru-paru tak lama setelah seminar proposal tugas akhirku.

“Bagaimana keadaanmu?”, tanyamu waktu itu.  Senyummu masih sama, tetap indah seindah namamu.

Kalau saja boleh jujur, akan kutumpahruahkan semua yang terpendam sejak sebelas tahun silam. Bagaimana kau telah mewarnai hidupku, membuatku selalu terpacu menjadi versi terbaik diriku. Hanya saja seluruh rangkaian kalimat itu tertahan di pangkal tenggorokan, sehingga yang keluar hanya ucapan “Baik” diiringi senyuman penuh dusta. Tak apalah, ada kau di sini saja sudah menjadi hadiah sempurna untuk mengobati segala nyeri yang kurasa.

Kau pun kembali ke tanah rantau selepas menengokku. Kita berjanji akan saling mengunjungi hari bahagia masing-masing beberapa bulan lagi. Hari yang dinanti semua mahasiswa seluruh penjuru nusantara, wisuda! Pesan singkat darimu kuterima tak lama setelah keretamu berangkat menuju Yogya:

Kalau kamu benar mau hadir di wisudaku, kamu harus sembuh. WAJIB! Be strong, please. Tuhan ga pernah kasih ujian yang melampaui kemampuan hambaNya. Kamu akan sembuh dan kamu harus percaya itu. -Lily

Semangat untuk sembuh itu kembali muncul ke permukaan. Entah dari mana segala energi yang kupunya. Aku seperti tidak merasa apa-apa, nyeri dada yang biasa menyerang seakan hilang entah ke mana. Aku kembali ke kampus, kembali menyelesaikan tugas akhirku, demi menemui ia yang ada di sana. Ia yang sejak awal begitu kucinta. Orang pertama dan akan selalu jadi yang pertama.

***

“Lily, selamat ya. Wisuda juga akhirnya. Hebat banget sih udah diterima kerja pula jadi asisten manajer.”

“Makasih banyak. Kamu juga ga kalah hebat. Selamat juga ya.”

“Sip, sama-sama.”

“Kok datang sendirian? Yang lain mana? Arya mana?”

“Yang lain lagi di sana. Eh, kalau soal Arya…”

“Apa ini, Riz?”

“Tulisan Arya yang ditemuin di buku hariannya. Orang tuanya minta untuk dikasih ke kamu. Maaf Ly, Arya meninggal kemarin waktu mau berangkat ke sini. Buka deh halaman terakhir buku hariannya.”

You did it, Ly! Besok lusa kamu akan wisuda. Besok aku berangkat menuju kotamu. Biar saja kupaksa diri ini meski dalam kondisi sakit. Aku tidak mau melewatkan hari bahagiamu, apalagi kau akan terlihat sangat cantik. Setelah itu, izinkan aku menemui ayahmu ya, Ly. Aku akan meminangmu. Aku ingin menyempurnakan kebahagiaanmu dengan menjadi pendampingmu. Semoga saja kau menyetujuinya. Karena kalau ada perempuan yang harus kubahagiakan selain ibuku, itu hanya kamu. Lily Nada Syabilla. Perempuan pertama yang kucinta. Pertama dan akan selalu jadi yang pertama.

“Arya teman sebangkuku sejak SMP. Dia cerita semua tentang yang dia rasa ke kamu. Dari dulu sampai akhir hayatnya, cuma kamu yang ada di hatinya, Ly.”

“Kita ke makamnya sekarang, Riz.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s