Kehidupan Selepas Wisuda #2

Cerita sebelumnya di sini

***

Ketika berada di ambang keputusasaan, rupanya datang pertolongan Allah di waktu yang tidak pernah diduga sebelumnya. Beasiswa tahap akhir saya pun turun! Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Nikmat-Nya yang manakah yang kudustakan? Saya pun mengecek rekening dan ternyata benar sudah ditransfer. Dengan begini, saya bisa mengurus segala hal yang harus dipersiapkan sebagai persyaratan pendaftaran S2 dan itu berarti saya harus fokus pada cita-cita master saya. Tawaran menjadi dosen pun saya tolak karena memang sejak awal saya merasa belum memiliki cukup ilmu untuk memulainya. Dalam hati berkata, “Jika memang menjadi dosen adalah rezeki saya, setelah selesai studi nanti kalau memang tawaran masih berlaku, maka akan saya ambil.

Saya segera membuka situs tes keahlian berbahasa Inggris. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti TOEFL iBT saja. Kursi untuk tes already booked, pembayaran tes beres, tinggal amunisi persiapan tesnya dengan melahap materi-materi tes.

Setelah itu, saya segera submit online application saya melalui University Admissions in Sweden. Tiga pilihan studi saya pilih sesuai dengan passion dan cita-cita saya dalam karier di masa depan. Lalu setelahnya, saya menyadari satu hal. Rupanya ada yang terlewat dari catatan perencanaan saya! Saya benar-benar lupa kalau harus membayar application fee sebesar 900 SEK sebelum tanggal 3 Februari! Kalau tidak, berkas saya tidak akan diproses. Ini berarti saya harus mengatur keuangan lagi agar cukup untuk semua urusan. Saya masih harus membeli tiket ke Jakarta untuk mengurus transkrip dan tes, masih ada biaya legalisasi ijazah dan transkrip, masih ada biaya jasa pengiriman ke luar negeri untuk berkas. *lemes*

Saat itu saya berpikir kalau ayah saya menteri mungkin enak aja ya minta uangnya. Alhamdulillah ayah saya bukan menteri, sehingga saya harus mandiri. Menyelesaikan masalah sendiri. Berbekal tekad yang besar, maka usaha ini tidak boleh terlepas di tengah jalan. Akhirnya 6 Januari 2014 saya berangkat ke Jakarta untuk mengurus semua berkas. Legalisasi ijazah, transkrip, terjemahan ijazah, surat rekomendasi dari dosen, serta TOEFL iBT (saya akan cerita detail tes ini di tulisan selanjutnya).

Things I need to prepare

Things I need to prepare

IMG_20140130_195910

My supporting documents’re ready to ship

Alhamdulillah! All praises to Allah. Akhirnya pada tanggal 30 Januari 2014 semua dokumen sudah siap untuk dikirim. Mungkin berlebihan, tapi jujur saya senang sekali. Prosesnya luar biasa! Ini mengingatkan saya akan usaha mendapatkan kursi di Universitas Indonesia pada 2009 silam.

Tiap hari saya selalu mengecek tracking dari situs DHL. Dokumen saya sudah sampai mana ya? Karena harus sampai di tangan officer-nya tanggal 3 Februari 2014. Mungkin bagi yang lain yang ingin kuliah di Swedia, jangan mengirimkan dokumen terlalu mepet seperti saya. Kalau kalian memiliki finansial yang memadai, kirimlah jauh-jauh hari sebelum deadline.

Kuasa Allah membantu saya begitu nyata. Dokumen saya pun diterima. Itu saya tuliskan di tulisan sebelum ini. *terharu*

***

Sekarang sudah bulan Maret dan itu berarti akhir bulan ini akan ada notification pertama dari University Admissions apakah saya diterima atau tidak. Setelah itu di awal April akan ada pengumuman apakah dokumen beasiswa Swedish Institute saya lolos atau tidak. Saya sudah melakukan usaha terbaik yang saya bisa, sekarang saya hanya bisa berdoa. Teman-teman yang membaca, mohon doanya juga ya. Walaupun 100% saya yakin bahwa keputusan terakhir sepenuhnya ada pada kuasa Allah.

Terlepas dari apa pun hasilnya, setidaknya saya belajar banyak dari segala proses ini.

  1. Nothing great comes easy. Hard working needed! Dosen-dosen saya dulunya pun ada yang berkali-kali mencoba mendaftar untuk kuliah di luar negeri. Usaha mereka tidak hanya sekali, pun tidak pula setahun! Tidak mudah memang, tetapi mereka bekerja keras untuk bangkit berusaha lagi mengejar mimpinya.
  2. There’s no such a waste. Insya Allah tidak ada yang sia-sia dalam usaha yang sebaik-baiknya. Minimal saya sudah punya pengalaman berurusan dengan pihak luar negeri. Contohnya saja berhubungan dengan mereka, bagaimana menulis email resmi untuk officer di Swedia dalam urusan akademik.
  3. The importance of parents’ permission. Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Saya selalu menjadikan hadits tersebut sebagai landasan hidup saya dalam melakukan apapun, termasuk ini. Sebelum berangkat ke Jakarta, berulang kali saya bertanya pada mama, “Mama ridha nggak aku lanjut S2?” Karena mama bilang ridha, maka apapun rintangannya, seberat apapun itu, saya lewati.

Ya Allah, jika rezekiku ada di langit, maka turunkanlah. Jika di dalam bumi, maka keluarkanlah. Jika jauh, maka dekatkanlah.

Kalau saya diterima, maka tulisan ini akan berlanjut ke bagian selanjutnya. Kalau tidak, mungkin akan tergantikan dengan kisah sebagai job hunter! Hihi. Whatever the result is, I personally believe that it’s the best for me.

Terakhir saya mau bilang,

“KEEP YOUR DREAMS ALIVE!”

*semoga bisa menyusul kawan baik saya, Raras Tulandaru, yang sudah lebih dulu diterima di Sheffield Hallam University untuk International Marketing (Master’s Programme).

Advertisements

3 thoughts on “Kehidupan Selepas Wisuda #2

  1. Pingback: Khusnudzhan dengan Ketetapan Allah | Kasten Verhaal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s