Pengelompokkan Kelas

WARNING!!!

Sebagai permulaan, saya ingin menegaskan bahwa tulisan ini adalah hasil kontemplasi dari pengalaman penulis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

***

Bismillaah…

“Wuih, siapa itu yang nilainya 98? Keren banget.”

“Itu si Haris.”

“Ah, itu mah jelas aja. Dia kan jenius, anak IPA tiga pula. Kelas cepat.”

K-E-L-A-S   C-E-P-A-T.

Pernah mendengar frase tersebut? Kelas cepat, kelas unggulan, kelas akselerasi, you name it lah. Intinya kelas dimana anak-anak pintar dijadikan satu. Biasanya berdasarkan ranking.

Cuplikan dialog di atas biasanya saya dengar ketika melihat daftar nilai yang ditempel oleh Bapak/Ibu guru di kaca kantor ketika musim ulangan semester saat SMA. Para siswa berkerumun untuk melihat hasil ulangan mereka, apakah lulus atau tidak. Beruntung kalau yang ditempel hanya Nomor Induk Siswa saja. Kalau sudah nama lengkap yang dipasang, tidak tahu lah bagaimana perasaan yang tidak lulus.

Ketika SMA kami menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dimana ada nilai batas lulusnya. Hasil ulangan semester akan memengaruhi nilai kami di rapor. Ketika hari pembagian rapor tiba, maka akan diketahui siapa ranking pertama di kelas administrasi, siapa juara umumnya, hingga siapa yang ada di peringkat sekian. Ranking itulah yang biasanya menjadi pedoman apakah di semester berikutnya kami masuk kelas cepat pertama, kedua, ketiga, bla bla bla sampai tak hingga.

Saya sendiri mulai mengenal pengelompokkan kelas seperti ini saat kelas 5 Sekolah Dasar. Saya masih ingat dengan jelas bahwa saya masuk kelas 5C -kelas cepat pertama- karena ketika kenaikan kelas saya menjadi juara umum. Hingga SMA pun saya selalu masuk dalam kelas cepat pertama. Jujur saja sejak SD hingga SMA saya bangga ketika selalu masuk kelas cepat. 5C, 6 Darul Qoror, 7G, 8G, 9E, 10E, 11 IPA 3, 12 IPA 3. Saya yang ketika itu pemikirannya begitu sempit mengenai ‘pintar’ dan ‘tidak pintar’.

Apalagi ketika semester pertama SMP. Saya yang sejak SD memimpikan untuk bisa diterima menjadi murid jalur beasiswa di salah satu SMP favorit di kota Bontang begitu senang ketika mengetahui bahwa saya masuk di kelas cepat! Begitu bangganya saya sekelas dengan mereka yang nama-namanya sudah tidak asing lagi di telinga sejak SD karena pernah bertemu dalam beberapa perlombaan. Nursita Setiawati, Inggrid Olyvia Nababan, Mikha Chandra Tampubolon, dan lain sebagainya. Mereka akhirnya menjadi teman sekelas saya. Hal itu pun langsung saya ceritakan pada orang tua ketika pulang sekolah, apalagi ketika pembagian rapor bayangan pertama saya sempat menjadi ranking kedua umum.

Sepertinya awal SMP adalah masa arogansi buat saya. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah, mohon ampun ya Allah. Saya mulai tersadar ketika kelas 3 SMP. Menjelang UAN kala itu. Pihak sekolah mulai menambah kelas malam bagi teman-teman yang selama try out nilainya masih kurang. Saya dan beberapa teman dari “kelas cepat” tiap malam bergantian jadwal untuk membantu guru matematika kami mengajarkan materi UAN pada teman-teman seangkatan.

“Ini ada yang salah sepertinya”,pikir saya saat itu.

Sekolah kami merupakan sekolah unggulan, kebanggan Kota Bontang kalau boleh saya bilang. Tiap tahun selalu meluluskan muridnya 100%. Namun saat menjelang UAN, mengapa masih ada teman-teman yang nilainya belum juga mencukupi? Bukankah seharusnya kami sukses bersama-sama? Yang lain bisa, mereka pun juga harus bisa toh?

Saya pun mengambil hipotesis bahwa salah satu penyebabnya ada di pengelompokkan kelas. Tidak bisa ditarik kesimpulan seenaknya sebetulnya, karena bisa jadi ada faktor lain yang memengaruhi. Motivasi, kesadaran diri, kedisiplinan, dan lain sebagainya. Tapi entahlah saat itu saya berpikir jika seandainya sejak awal kami yang bisa disebar diantara teman-teman yang belum bisa, bisa jadi mereka tertular menjadi bisa. Bukan malah yang bisa dikumpulkan menjadi satu dan tidak peka terhadap kesulitan teman-teman lain.

Menjelang lulus SMP, itulah awal titik balik saya. Sejak saat itu, saya menolak mati-matian yang namanya pengelompokkan kelas! Biarlah kami berbaur bersama tanpa ada pengotak-ngotakkan si pintar dan tidak pintar. Definisi pintar tidak sesempit itu rupanya.

***

Saya belum menemukan penelitian mengenai ini. Pun saya juga belum melakukan penelitian mengenai ini. Namun, saya dengan kemampuan berpikir yang terbatas, ingin mendata manfaat jika ada pengelompokkan kelas dan tidak.

Manfaat yang bisa diambil dari pengelompokkan kelas:

  1. Memotivasi siswa yang lain agar rajin belajar dan meningatkan prestasinya, sehingga masuk di “kelas cepat”
  2. Kebanggan bagi diri sendiri dan orang tua
  3. Peringkat bisa digunakan sebagai syarat di salah satu jalur masuk perguruan tinggi
  4. Hmmm apa lagi ya, nggak nemuin ternyata

Manfaat yang didapat seandainya tidak ada pengelompokkan kelas:

  1. Tidak ada gap antara siswa yang satu dengan yang lain
  2. Sama-sama belajar, yang sudah paham bisa mengajarkan yang belum paham
  3. Meningkatkan rasa percaya diri, tidak ada lagi yang minder akademik seperti dialog di atas
  4. Saling memotivasi untuk sama-sama berprestasi
  5. Meningkatkan kepekaan terhadap kesulitan teman lain
  6. Tidak terintimidasi peringkat, sehingga belajar menjadi menyenangkan
  7. Menambah jumlah teman karena yang bisa akhirnya bergaul dengan yang belum bisa, bukan hanya berkumpul di satu kelas dengan mereka yang sudah bisa

Dari dulu hingga saya menuliskan ini, daftar tersebut yang terpikir oleh saya. Silakan jika ada yang ingin menambahi. Dari pengalaman hidup ini saya benar-benar bersyukur. Allah pernah kasih saya hidup merasakan di atas (ketika selalu juara), pernah pula di bawah (saat peringkat menurun). Dengan begitu saya bisa memetik pelajaran berharga. Untuk apa berbangga diri ketika di lain sisi teman sendiri butuh bantuan dari saya? Karena memang lebih membahagiakan sukses bersama-sama. Empati itu ada dari sana. Tidaklah pantas merasa superior dibanding yang lain. Terima kasih, Allah untuk segala hikmah ini.

Harapan saya kedepannya adalah siswa-siswa di Indonesia semakin menghargai satu sama lain, tidak saling merendahkan. Kecerdasan seseorang itu bukan hanya dinilai dari nilai-nilai di rapor atau pun peringkat-peringkat di piagam. Kecerdasan lebih luas dari pada itu. Ada berbagai macam area kecerdasan. Anak yang satu bisa jadi berbeda dengan anak yang lain. Ada yang cerdas di bidang linguistik, di bidang seni, dan lain sebagainya.

Yang lebih penting dari semua kecerdasan adalah moral siswa Indonesia. Bagaimana perilakunya terhadap sesama, bagaimana menghormati gurunya, bagaimana sopan santunnya. Karena percuma nilai hampir sempurna semua, tetapi suka berkata kasar pada teman-temannya. Pokoknya harapan saya sungguh teramat besar bagi pendidikan di Indonesia. Terima saya ya, Pak, Bu, di Kemendikbud nanti! (eh, promosi hehe) 😀

Sebagai penutup, saya ingin mengutip perkataan tokoh kontemporer favorit saya.

“MENDIDIK MERUPAKAN TUGAS SEMUA ORANG YANG TERDIDIK.” (Anies Baswedan)

HIDUP PENDIDIKAN INDONESIA!!! KITA PASTI BISA MAJU!!!

Alhamdulillah. Sekian, terima kasih.

Advertisements

2 thoughts on “Pengelompokkan Kelas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s