Kehidupan Selepas Wisuda

“Lo jadinya selama ini ngapain aja, Din?”, begitulah kira-kira pertanyaan yang sering ditanyakan teman-teman jika bertemu saya.

Sejak awal Oktober 2013, saya sudah meninggalkan Depok yang selama empat tahun ke belakang telah menemani hari-hari saya  menjadi mahasiswa Universitas Indonesia. Seorang diri membawa sebagian barang yang ternyata cukup banyak (hingga over capacity untuk bagasi pesawat) kembali ke kota tercinta. Tidak seperti teman-teman lain yang melanjutkan program profesi, saya harus mempersiapkan diri menggapai mimpi baru yang harus dicapai.

Ketika memutuskan untuk tidak ikut profesi (baca di sini), Allah seperti menunjukkan jalan lain yang terbuka untuk saya. Saya mendapat email dari seorang konsultan pendidikan di salah satu negara Skandinavia. Ia memaparkan jenjang pendidikan S2 di sana dan jurusan-jurusan apa saja yang bisa saya pilih. Setelah berbincang beberapa kali melalui surat elektronik tersebut, kami pun bertatap muka pertama kali di salah satu kedai kopi (ceilah gaya bener) di daerah Jakarta Selatan.

Dengan berbekal resume terbaru, saya berdiskusi dengan beliau. Beliau ternyata adalah orang Indonesia yang akhirnya bersuamikan bule, sehingga menetap di sana. Kakak konsultan ini bekerja di dinas pendidikan di negara sana (kita sebut begitu saja ya biar mudah). Jadi, kakak ini memang tiap tahunnya membantu mahasiswa Indonesia atau siapa saja yang ingin melanjutkan studi di sana.

MULIA!

Bagaimana tidak? Ia rela terbang jauh ke Indonesia untuk menemui beberapa orang yang merespon emailnya dan bersedia bertemu dengannya. Tidak hanya di Jakarta, beliau juga mendatangi Bali, Surabaya, dan Jogja untuk menemui mahasiswa di sana. Kami semua dijelaskan mengenai sistem pendidikan di sana, proses seleksinya, mekanisme beasiswanya, hingga timeline persiapannya.

Setelah memahami semuanya dan meneguhkan hati, saya pun memutuskan juga. Bismillaah, saya akan mencoba melanjutkan studi pascasarjana ke Swedia!

***

Hal pertama yang harus saya lakukan adalah mempersiapkan tes IELTS yang menjadi salah satu persyaratan. Saya sampai meminjam buku persiapan ke dosen junior di kampus (thanks, Kak Chiyar). Ketika itu target tes saya adalah pertengahan November 2013, sehingga ketika kakak konsultan yang rencananya akan ke Indonesia akhir November, hasil tes saya sudah keluar.

Di tengah-tengah persiapan tersebut, tiba-tiba datang tawaran untuk menjadi dosen muda di salah satu Sekolah Tinggi Kesehatan di kota *********. Waktu pun terus berjalan mendekati target saya harus tes, sementara saya belum memiliki uang untuk membayar biaya pendaftarannya. Sebagai informasi, biaya tes IELTS tidaklah murah. Harapan saya saat itu hanyalah beasiswa tahap akhir saya yang belum cair karena saya segan untuk meminta pada orang tua.

Di antara tawaran menjadi dosen dan kegelisahan mengenai biaya tes, saya sempat putus asa untuk melanjutkan usaha melanjutkan studi ini. Saya sampai stress, sampai sakit, bingung harus bagaimana.

Diterima saja kah? Menyerah saja kah?

*bersambung…

Advertisements

One thought on “Kehidupan Selepas Wisuda

  1. Pingback: Kehidupan Selepas Wisuda #2 | Kasten Verhaal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s