Cerpen: Beku

Aku pikir aku tidak akan lagi merasakan kebekuan pada diriku sejak bertahun-tahun lalu. Ya, bertahun-tahun lalu saat kedua bola mataku terpaku pada satu titik temu. Pemandangan yang meretakkan hati ketika melihat dia yang kusangka menjadi masa depanku berdua dengan pilihan orang tuanya. Lebih berharta dibanding diriku yang tiada daya dibandingkan dengannya. Perjodohan harta dan tahta, begitu kurang lebih disebutkan pujangga ternama.

Dua puluh menit lalu kudapati lagi diriku beku. Lidah pun ikut kelu. Sosok yang berdiri di hadapanku ialah ia yang kehadirannya kutunggu. Aku tunggu untuk bertemu.

***

Satu setengah tahun lalu…

Habis sudah air mataku meratapi perjalananku yang lebih mirip serial televisi. Keteguhan hati yang susah payah kubangun dan kujaga dibalas dengan pengkhianatan sempurna. Aku bersyukur jiwaku tak sampai terganggu, hingga aku berjanji takkan membagi luka ini dengan siapa pun selain Tuhanku, yang tentu lebih sayang padaku.

Di sela-sela usaha menyembuhkan hati, aku lebih sering menyepi untuk menyendiri. Terkadang untuk merefleksi diri, terkadang untuk menghibur diri. Kemudian kutemukan langkah paling efektif menemukan kembali bahagiaku yang sempat pergi. Membaca. Tulisan dari buku-buku ternama banyak menyentuh dan membuatku sembuh. “Aku harus bangkit!“, pikirku tiap selesai menamatkan bacaanku.

Hatiku mulai sembuh, terlebih setelah aku jatuh cinta pada tulisan seseorang. Semakin lama aku bisa menilai karakter seseorang dari tulisan yang dibuatnya. Konyol memang, aku tahu. Anggap saja hanya berlaku untuk orang ini. Tutur bahasanya indah, seindah tulisannya yang menggambarkan rasa syukur dan betapa bahagianya ia nun jauh di sana. Siapa dia sebenarnya? Tiap minggu tiada kulewatkan satu pun tulisannya. Sepertinya aku mulai kagum padanya. Si penulis di dunia maya.

***

Dua puluh menit lalu aku sudah berdiri di pintu depan rumah sahabatku. Sahabatku di tanah rantau, yang sudah kuanggap keluarga sendiri selama di perguruan tinggi.

“Liza, aku sudah di depan nih. Bukain pintu ya”, kukirim pesan singkat ke sahabatku.

“Akhirnya datang juga. Ayo sini cepetan masuk!”, ucap Liza sambil membukakan pintu.

Sejak seminggu lalu Liza begitu bersemangat mengundangku ke rumahnya setelah kuceritakan padanya rencanaku untuk melanjutkan sekolah pascasarjana. Sampai pada detik aku berada dalam rumahnya, aku masih belum menemukan alasannya mengundangku datang ke sana. Hingga semenit kemudian turun seseorang dari lantai dua.

Kudapati lagi diriku beku setelah bertahun-tahun lalu. Lidah pun ikut kelu. Sosok yang berdiri di hadapanku ialah ia yang kehadirannya kutunggu. Aku tunggu untuk bertemu. Waktu seakan berhenti saat itu, meski aku tahu tak ada yang dapat menghentikan waktu selain Sang Pencipta Waktu.

“Kenalin ini kakakku. Dia lagi liburan musim panas. Minggu lalu kan kamu cerita mau lanjut S2 ke Edinburgh, nah bisa tanya-tanya deh sama kakakku. Mas, ini sahabatku, Nada.”

Dia, si penulis dunia maya, rupanya kakak sahabatku. Dia, yang menjadi alasanku untuk melanjutkan studiku. Dia, yang melalui tulisan-tulisannya, menyembuhkan lukaku.

Dia, Mas Gazza namanya. Dia, yang nyata kehadirannya. Dia, yang memantapkan langkahku meninggalkan Indonesia sementara, menciptakan bahagia.

Aku beku seperti bertahun-tahun lalu. Tidak seperti dulu dalam sedihku, kali ini aku beku dalam harapku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s