Harus Bisa Masak

Berangkat dari pengalaman pribadi saya sendiri dan juga sebuah tulisan dari Tere Liye, saya akhirnya menuliskan ini. Tak lain tak bukan, hanya ingin menuangkan apa yang selama ini begitu sulit terucapkan. Kira-kira seperti inilah tulisan Bang Tere:

Saya kira, kalau ada laki-laki yang memasukkan syarat “harus bisa masak” bagi calon istrinya, maka dia sebenarnya bukan sedang nyari istri, mungkin sebenarnya sedang nyari koki.

Selalu gunakan kriteria mendasar dan kokoh saat mencari jodoh. Seperti, carilah wanita yang mau memastikan keluarganya makan masakan yang halal dan baik, maka bahkan saat dia tidak tahu apa itu panci, yang mana itu kuali, apa beda lengkuas dan jahe, dia akan belajar memasak habis-habisan.

Saya, tidak sekali-dua kali mendapat teguran, sindiran, atau bahkan celaan atas kurang pandainya saya dalam hal memasak. Baik dari keluarga sendiri ataupun teman-teman sendiri. Untuk hal itu, saya masih bisa memaklumi. Diam menjadi pilihan terbaik saya, sambil terus berkata dalam hati, “Saya hanya belum pandai memasak. Saat ini belum. Bisa jadi begitu jago di kemudian hari.

Namun, jika hal ‘pandai memasak’ ini sudah dikaitkan dengan kriteria memilih istri atau berumah tangga, sungguh tidak layak bagi saya. Saya berpikir bahwa, akan menjadi fitrah seorang perempuan untuk pandai memasak ketika berumah tangga kelak, sama seperti fitrahnya sebagai ‘dokter/perawat keluarga’ atau ‘si penyabar sebagai pendamping adam’. Semua yang pandai, pastilah dimulai dari nol. Dari tidak bisa. Dari rasa ingin tahu yang luar biasa. Bukan begitu?

Mama saya yang begitu hebatnya dalam hal memasak pun bercerita bahwa awalnya mama hanya coba-coba. Dapur itu layaknya ‘kerajaan’ sang istri saat sudah berumah tangga. Penuh trial and error dalam hal memasak. Lama-lama terbiasa, lama-lama akan bisa.

Nah, mama saya aja bisa menerima kondisi anaknya seperti itu, bahkan dapat bonus reinforcement positif, apa hak yang lain untuk mencela?

Untuk yang sesama perempuan, tidakkah hati kalian akan sedih jika di hadapan yang lain dibongkar segala hal yang tidak baik mengenai kalian? Sudahlah, hentikan. Mari bersama saling mendukung dan mendoakan, bahwa sebagai perempuan, kita tentu bisa menjadi sebaik-baiknya pendamping keluarga kelak.

Untuk yang lelaki, tidakkah kalian juga tersinggung apabila disindir mengenai keahlian ‘bapak rumah tangga’ yang belum kalian kuasai? Sudahlah, kurangi hingga akhiri mencela kawan kalian yang BELUM pandai memasak. Masih banyak toh hal positif yang mereka punya? Bukankah selalu dipasangkan kelebihan bagi setiap kekurangan? 🙂

Kalau mau memilih membela diri dari pada berdiam diri setiap kali menghadapi hal ini, justru dulu ketika SD saya pandai sekali memasak. Membuat donat, puding, atau kue lainnya. Bahkan sekali lihat, saya akan cepat belajar. Mungkin karena saat itu saya terbiasa ya. Kalau mau ditelaah dengan seksama (kayak apaan aja), bisa jadi ini penyebab saya belum pandai memasak:

  1. Tidak Terbiasa. Untuk belanja ke pasar sampai mengolah masakannya, memang saya tidak terbiasa. Belum membiasakan diri lebih tepatnya. Apalagi selama kuliah, saya teramat jarang menggunakan dapur indekos saya. Lebih sering membeli makan di warteg atau tempat praktis lainnya.
  2. Kurang Motivasi. Sebenarnya tidak jarang saya minta diajarkan masak pada teman atau mama yang lebih jago ilmu memasaknya dibanding saya. Bisa jadi karena belum disandingkan nyata pangeran berkuda putihnya sama Allah, jadi motivasi memasaknya naik-turun hehe.

Terlepas dari hal itu, yang terpenting bagi saya adalah keinginan untuk selalu belajar. Tidak sedikit loh istri yang tadinya tidak bisa memasak sama sekali, justru ketika selalu mencoba belajar saat berumah tangga ternyata ia pandai sekali. Saya? Tentu saja ingin seperti itu. Perempuan mana yang tidak ingin ahli memanjakan suami dalam hal masakan?

Selain itu, come on, please guys, jangan persempit persepsi kalian bahwa kriteria ‘harus bisa masak’ adalah SATU-SATUNYA yang akan membuat awet usia pernikahan kalian. Bukti nyata yang menyanggah hal itu pernah saya temui pada staf umum fakultas tempat saya berkuliah dulu. Hingga di usia pernikahannya yang sudah berpuluh tahun, ibu staf itu tetap tidak bisa memasak. Sejak menikah sampai saat ini, selalu suaminya yang bangun pagi dan membuatkan bekal untuk istrinya. Pernikahan mereka pun baik-baik saja. Baik-baik saja di sini bukan berarti tanpa pertengkaran loh ya. Kalau itu saya tidak tahu, tapi yang saya tahu adalah suami tidak sampai menceraikan istrinya tuh hanya karena sang ibu staf tidak pandai memasak. Ibu staf adalah teman bercerita saya di kampus (informasi aja).

Menurut saya, kriteria mendasar calon istri bukankah sudah jelas dasarnya? Dibanding meletakkan kriteria ‘harus bisa masak’, bukankah lebih bijaksana jika kriterianya ‘yang menenteramkan’ atau ‘yang taat pada suaminya’? Hal-hal baik lainnya yang apabila mengikuti, mari kita anggap bonus dari Allah. Ya, kembali lagi seyogianya lelaki berhak memilih.

“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits)

Hal terpenting dari tulisan ini adalah, jangan berhenti belajar. Belajar dari siapa saja, dari semua jiwa. Ilmu Allah terbentang luas, terutama ilmu agama. Saya masih bau kencur dalam hal ilmu agama, semoga keinginan kuat untuk terus belajar tak pernah padam.

Mohon maaf jika tidak berkenan. Sekian. 🙂

Advertisements

One thought on “Harus Bisa Masak

  1. Pingback: From The Bottom of My Heart | Kasten Verhaal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s